Refleksi

Photobucket

REFLEKSI

 

 Masa Kanak-kanak

 

Masa kanak-kanak merupakan masa yang mempunyai kesan tersendiri dan selalu manis untuk dikenang. Saya adalah seorang anak desa. Dilahirkan di sebuah desa  disebelah selatan Gunung Slamet yang masuk kawasan Kabupaten Banyumas. Sebuah  desa, Panusupan namanya.

Orang tuaku seorang guru sekolah Dasar, waktu itu namanya masih Sekolah Rakyat atau SR. Kehidupan  masa kecilku sering berpindah tempat oleh karena mengikuti tempat tugas ayahku. Mungkin usiaku 2 atau 3 tahun ketika pertama kali harus meninggalkan desa tempat kelahiranku Panusupan, pindah ke Karangtengah karena ayahku bertugas di SD Karangsari. Disana pulalah aku masuk sekolah kelas 1. Sebagai anak aku merasakan keganjilan antara ayah di rumah dan di sekolah. Belakangan baru aku sadar bahwa di sekolah ayahku juga menjadi ayah semua muridnya.

Sesekali aku juga ikut embah Parto, embah dari Bapakdi Banjar, Jawa Barat. Banyak kenangan manis masa kecil yang tidak mudah kulupakan. Dari anekdot-anekdot yang manis sampai yang lucu-lucu  .

Ketika masih kecil saya sering sekali bertengkar.Kata orang si pertengkaran itu biasa apalagi dari tiga anak laki-laki semua. Dan aku sendiri anak pertama dari tiga bersaudara itu. Ini salah satu pertengkaran diantaranya dengan adik-adik saya sendiri Yitno dan Yono. Suatu ketika terjadi pertengkaran, puncaknya kulempar adik saya dengan pecahan genting kena di pelipisnya hingga keluar darah. Tak pelak ayahkupun marah, aku dipukul ayah dengan sepotong kayu bakar. Hatiku kecut, gundah, takut, cemas dan kecewa . Alih-alih rasa kesalku itu, menjelang maghrib aku pergi ngumpet. Tak jauh sih, dari rumah ..  cuman naik pohon pepaya yang rimbun di belakang rumah. Kebetulan pohon pepaya itu, dibagian atasnya bercabang sehingga cukup nyaman untuk duduk bertengger.

Malampun tiba ketika kemudian ayah dan ibu sangat mencemaskan saya yang tidak pulang ke rumah  Orang sedukuh itu mencari-cari aku sampai cukup malam. Bukan itu saja, bahkan mereka juga menghubungi dukun, ….paranormal gitu lho…. pada waktu itu. Anehnya menurut paranormal itu katanya aku berada di daerah yang tinggi. Jadi orang-orang mencariku kearah utara. Kebetulan disebelah utara  rumahku ada rel kereta api. Terus keutara lagi memang tanahnya lebih tinggi dan menanjak. Padahal aku di atas pohon pepaya.

Ketika hari semakin malam, akupun kemudian ternyata tak tahan  oleh rasa kantuk dan dingin. Akupun menyerah ….diam-diam aku turun, terus ngeloyor masuk rumah langsung ke tempat tidur tanpa ba-bi-bu, tanpa ada yang tahu. Karena semua keluar sibuk mencariku. Akhirnya semuanyapun kaget ketika kemudian ada yang tahu saya sudah berada di tempat tidur, … pura-pura tidur lagi.

(Refleksi 1 )

 

Menjadi anak Sunda

Saat itu usiaku 9 tahun, saya dijemput mbah putri agar ikut embah di Jawa Barat tepatnya di Banjar patoman dan Banjarsari. Jadi sekitar tahun 1960 sampai dengan 1967 atau kelas 3 SR sampai kelas 1 SMP. Oleh karena jangan heran lagi jika saya bisa bahasa Sunda.

Masih terungat waktu itu masih duduk di klas 3 SR, mbah putriku menjemput agar aku ikut mbah di Banjar. Pagi-pagi sekali berangkat mengejar kereta api yang paling pagi jurusan kroya. Di Kroya pindah  kereta. Waktu itu keretanya masih menggunakan bahan bakar arang batubara. Jika masuk terowomgan, alamat baju menjadi kotor karena asap kereta yang ternyata masih membawa debu arang berjatuhan kedalam kereta.

Sampai di Banjar habis maghrib. Yang kemudian kurasakan setiap orang bicara kurasakan aneh. Ya karena bukan dengan bahasa harianku, melainkan bahasa Sunda.

Waktu di Banjarpatoman tepatnya disebuah desa yang terletak di sebelah selatan setasiun Banjarpatoman tepatnya Desa Cikabuyutan. Embah saya   baik mbah kakung maupun mbah putri, saya memanggilnya Eyang, benar-benar sangat sayang kepadaku. Aku ingat kalau habis magrib sering diajak jalan-jalan ke Piadeu kemudian pulangnya dibelikan makanan semacan bakmi ayam, yang dimakan setelah capai jalan-jalan, rasanya aduh … sulit dilupakan.

Mbah putri sering mengajaku ke pasar, makanan apa saja di belikan, tapi aduh .. kalau aku minta ke toko buku untuk dibelikan buku bacaan, sering aku sampai nangis-nangis. Aku si ga tahu, soalnya anak kecil, barangkali uangnya pas-pasan.

Waktu kanak-kanaku disana banyak bermain dengan teman-teman. Ternyata banyak juga anak-anak Jawa disana. Seperti Markun anak seorang pegawai KA, Sutrimo dan lain-lain. Sekali-kali aku main mencari jangkrik ke bukit, atau mencari kayu bakar pelepah atau daun kelapa, atau mencari buah-buahan hutan seperti pepaya. Sekali waktu sedang mencari pepaya, kami melihat jejak harimau. Kontan kami merasa takut dan lemas. Benar-benar nama raja rimba itu punya kharisma kurasakan pada saat itu. Kamipun segera menjauhinya dan ambil langkah menuju pulang.  

 

Cerita eyang putriku ini ada anekdot yang tak dapat kulupakan. Waktu itu usiaku barangkali 2 tahunan. Aku diajak ke pasar. Disana aku menangis  minta dibelikan kapal terbang-kapal terbangan. Sampai nangis-nangis aku tetap tak dibelikan. Aku di hibur dengan macam-macam jajannan. Aku tetep nangis sampai akhirnya diam karena lelah menangis.

Pulang dari pasar itu Mbah putri membeli banyak tahu -itu lho lauk makanan rakyat yang terbuat dari kedelai atau yang dikenal dengan keju jawa – untuk lauk makan di rumah. Karena masih kecil aku tak kuat jalan kaki pulang. Ceritanya jadilah aku digendong tetapi diatas  barang-barang beceran yang juga digendong Mbah Putri. Enak juga di gendongan bertingkat yang unik itu. Akupun  kecapaian mungkin tertidur.

Ditengah perjalanan pulang itu, ketika  hampir sampai rumah, berpapasan dengan tetangga. Tetangga itu menyapa sambil menunjuk gendongan unik bertanya ’

-Mbah, ……. cucunya ngompol apa ?

-Tuh lihat !

Karena dari gendongannya yang berada di belakang punggung Mbah Putri keluar airnya. Mbah Putri berhenti sejenak, akupun dibangunkan. Kemudian dicari-cari barangkali aku ngompol.

-Kamu ngompol apa ? tanya Mbah utri ?

-Tidak, kok Mbah !

-Hayo ngaku kamu ngompol !

-Tidaak Mbah !

 

Ketika dicari kesana  sini, termasuk dibaui, eh kok airnya gak bau pesing-bau ompol maksudnya. Akhirnya diketahui, ternyata aku duduknya persis diatas bungkusan tahunya. Jadilah tahu itu seperti diperas, bungkusan itupun jadi keluar airnya. Alih-alih tahunya diperas karena aku duduk diatasnya, aku yang dikira ngompol

( refleksi 2 )

 

Tahun 1963 aku ikut mbah di Banjar di kampung Cikabuyutan. Kemarau  sangat panjang melanda, kalau ga salah 9 bulan. Dimana-mana kekurangan air, sumur-sumur mengalami kekeringan. Sore hari aku dan teman-teman sering pergi bermain sambil mencari air dari …. itu tuh.. pada loko kereta api, di setasiun kereta api Banjar.

Biasanya kami mulai berangkat sehabis magrib, ketika lok sudah ditinggal masinisnya untuk istirahat  lok seperti itu biasanya sudah diisi air karena lok mesin uap, untuk berangkat esok hari sesuai jadwal masing-masing. Suatu ketika aku kena batunya, kakiku kena air yang keluar dari lok, ternyata lok baru jalan sehingga airnya panas.

Ada-ada saja kegembiraan anak, di rumah ga ada air, disana kami pada pesta air naik ke atas lok dan nyemplung mandi berendam sesukanya pada tangki lok kereta api, dengan teman-teman. Dasar anak !

( Refleksi 3 )

 

Orang Tuaku

Ayahku seorang Guru Sekolah Rakyat, …..SD sekarang gitu lho… ! Waktu itu setelah lama menjadi guru kemudian menjabat Kepala Sekolah beberapa tahun menjelang  pensiun. Sebenarnya pada sekitar tahun 1958an gaji ayahku terbilang cukup. Aku masih ingat, setiap waktu ada saja kesempatan untuk rekreasi. Biasanya ke kota. Berangkat naik kereta api dari setasiun Karangsari, pulangnya pakai sedan (taksi). Tetapi ketika kondisi perekonomian memburuk apalagi sekitar tahun 1963, 1969, harga-bahan makanan membubung, semua mengalami kesulitan, keluargaku sangat prihatin. Gaji ayahku hanya cukup untuk makan dua minggu.

Puncaknya tahun 1969an pernah hanya makan 1 kali seharinya, selebihnya makan sayur lontop,…itu lho sayur daun ubijalar. Daun ubi dibuat sayur bening, untuk makan. Sekali-kali jika ada ditaburi beras beberapa sendok… bayangkan.Lebihbanyak sayurnya daripada butiran nasinya. Sampai-sampai terasa bau seperti mulut kerbau. Nenekku membantu membanting tulang dengan membuat kerajinan anyam tikar daun pandan pandan. Tikar itu dijual kepasar 4-5 hari sekali untuk penyambung hidup.

Kemudian  pada tahun 1969 sehabis tamat SMP aku pindah ikut mbakyu di Klapasawit Purwojati. Setamat SMP  keadaanku dilanda gundah dan kecewa karena aku tak bisa meneruskan sekolah. Sudah mendaftar ke SPG, tetapi karena tak ada biaya jadilah tidak sekolah. Aku bekerja membantu pekerjaan mbakyu. Apa saja diantaranya mencari kayubakar ke hutan, maksudnya hutan milik. Karena mbakyu saya membuat gula kelapa, yang sangat memerlukan kayu bakar cukup banyak. Kadang-kadang juga bekerja di sawah ndaut (mencabut benih padi dari persemaian untuk kelak ditanam pada lahan yang telah disiapkan), menyiangi padi sawah dan atau memetik padi (panen). Aku benar-benar latihan kerja setamat dari SMP.

Siang hari kerja, malam kadang jalan-jalan keperempatan desa. Ngobrol-ngobrol disana, terkadang kalau ada tontonan ya nonton. Biasanya tontonan didesa adalah wayang kulit, orkes melayu ndang dut, atau layar tancap. Alih-alih nonton yang sering ya melihat yang nonton, cuci mata….. gitu lho. Biasa adat anak muda di desa.

Setelah sekian lama ikut mbakyu, kemudian ibu membeli rumah sangat sederhana, di belakang rumahnya. Kamipun pisah rumah dengan mbakyu. Pada musim awal tanam selain membantu pekerjaan mbakyu, terkadang aku bekerja menjadi buruh ikut mencangkul atau menyiangi sawah Uwa kaji. Kerjaku setengah harian. Lumayan dapat uang saku untuk lebaran.

( Refleksi 4 )

 

Lagu kenangan

Tahun 63 an mulai pop lagu-lagu yang dibawakan Rahmat Kartolo. Seperti Patah Hati. Kemudian Kisah Cinta, Kunanti jawabanmu. Pertama kali aku menonton band Dasa Kelana Combo. Waktu itu yang in didaerah saya memang jenis lagu-lagu pop. Kemudian era Tety Kadi, Kus plus dengan lagu-lagunya Mimpi sedih, Buat apa susah, Kolam susu, Nusantara. Bimbo dan Bruri dengan suara ngebasnya juga aku suka. Lagu-lagu Panbers seperti Hidup terkekang yang sentimentil suka juga. Seperti juga lagunya Poppy Mercury, Niki Astria, Nike Ardila ataupun Deddy Dores. Kalau lagu-lagu dangdut aku suka lagu-lagu Oma Irama

Di masa SMP ada biduan Sri Aminati yang in membawakan lagu riang Surabaya dalam duetnya. Lagu terang bulan digunung Titik Sandora juga aku suka, membawa imajinasi kenangan hidup  Sama seperti  Bukit Berbunga, Widuri, Angin lalu. Semua mengenangkan nama-nama Trisiswangingsih, Winarti, Sri Suliyah, Susi dan lain-lain.  

 

  

 

 

Ibuku

 

Ibuku seorang yang saleh, Anak seorang Haji, jadi cucu seorang haji aku ini,… gitu lho …! Dalam hidupku, Ibuku adalah mutiaraku. Dialah yang selalu memberi motivasi dalam hidupku. Ketika aku tak bisa melanjutkan sekolah karena biaya tak ada, ibu berjualan apem kue yang terbuat dari tepung beras, untuk mengkursuskanku. Ibu juga pontang panting mencari peluang kesempatan kerjaku kesana-kemari.

Ibuku, juga jago masak, selain membuat makanan kue apem dan lapis, juga membuat sayur bening dan menggoreng ikan. Rasanya goreng ikan ibuku belum ada tandingannya. Goreng ikan ibuku gurih sekali dan tidak amis. Bumbunya lengkap ada burus, jahe, kunyit, beluluk. Haha … apa itu yaitu buah kelapa yang masih muda sekali

Sekali waktu aku memancing ikan sidat di sungai sebelah barat rumah. Setelah beberapa lama menyusuri sungai kecil itu, ketika pancingku diterkam  sidat dari sarangnya diantara sela-sela bebatuan sungai. Akupun kemudian menariknya, …. uh berat sekali, ternyata seekor ikan sidat yang cukup besar, panjangnya ada 1 meter. Akupun agak gemetar gembira campur agak takut. Belum pernah dapat ikan sidat sebesar itu. Kubawa keatas batu besar kubanting beberapa kali agar tidak meronta. Terus kubawa pulang, dimasak ibu…  duh nikmatnya.

Ibuku jarang sekali marah, meski aku berbuat yang tidak berkenan. Ibuku benar-benar orang yang sabar. Ia banyak memberi nasihat kepadaku. Anehnya jika dengan tetangga, ngobrol-ngobrol dengan ibu, selalu saja dalam obrolan itu ibuku memujiku, akupun mencuri mendengar sambil berbunga-bunga.

Ibuku adalah titik air bening, pengobat haus dahagaku, dengan ketulusannya. Semoga Tuhan mengampuni dan memberi kasih sayang pada ibuku, seperti dia juga menyayangiku ketika aku masih kecil.

 

( Refleksi 5 )

 

Ibuku mutiara hidupku

 

Sore itu hari sangat panas, aku pulang kuliah sore. Rasa kecewa, capai dan payah mendera tubuh ini. Ceritanya aku ikut kuliah sambil bekerja. Yang kulakukan demikian berat, tetapi dengan modal tekad membara, aku berusaha untuk menyelesaikannya. Inilah  pelajaran diri yang ditanamkan selalu oleh ibuku.

Langsung dalam benak ini terlintas wajah ibuku. Duh …Ibu.., demikian besar pengorbananmu. Kalau saja ibu tidak mendorong, memberi motivasi padaku, apa jadinya. Terbayang olehku sesosok perempuan tua, kurus dan kering. Tapi hatinya begitu bening, selalu menyiramkan kasih sayang, motivasi hidup pada anak-anaknya.

Aku terlahir dari keluarga guru yang sederhana. Gaji ayahku pas-pasan, bahkan dimasa paceklik hanya cukup untuk hidup 2 minggu. Pernah suatu ketika mengalami masa sulit,  sampai-sampai makan sehari hanya 1 kali. Karenanya kesehatanku agak terganggu dan yang lebih parah kurasakan adalah aku mengalami depresi mental. Aku menjadi lebih pendiam menjauh dari teman-teman dan takut bergaul.

Tamat SMP, ayahku tidak lagi mampu membiayaiku sekolah. Jadilah aku penganggur. Waktu itu sebenarnya aku sudah mendaftar ke SPG, tetapi tinggal berangkat testing penerimaan siswa, ayah  tak memberiku  uang.

Lepas dari itu daripada nganggur aku ikut Mbakyu di desa. Mbakyuku dari keluarga petani yang lumayan agak kecukupan. Setiap hari aku kerja ( lebih tepatnya : “belajar kerja” ) di lingkungan pertanian yang sebelumnya belum pernah aku alami. Tenagaku dikuras setiap hari. Hari-hari diisi dengan kegiatan rutin :  kerja, penat, makan dan kemudian tidur. Aku benar-benar merasa ketika itu bahwa hidup hanyalah untuk makan. Tetapi ibuku selalu mendorong agar aku setiap ada kesempatan untuk mencoba melanjutkan sekolah. Untuk itu ibuku rela berjualan makanan kecil yang alhamdulillah cukup laris. Maka  dengan dorongan , motivasi dan pengorbanan yang luarbiasa dari ibu, aku bisa melanjutkan sekolah kembali. Sepulang sekolah aku membantu menyiapkan ibu membuat makanan ringan yang akan dijual esok hari, seringkali sampai larut malam dan tertidur kecapaian.

Alhamdulillah aku selesai, dan diangkat sebagai guru negeri. Meski ibuku semakin lemah, tetapi selalu mendorong aku tetap belajar. Jadilah aku bekerja pagi dan melanjutkan lagi kuliah sore hari.

Saat ini benar-benar aku sedang merasakan dada yang sesak, .. dan hati ingin menangis. Yang  kemudian benar-benar menitikkan air mata, mengenang itu semua. Teringat ibuku yang kini sudah tiada.  Sementara aku merasa belum pernah berbuat apa-apa untuk ibuku. Ibuku adalah mutiara dalam hidupku. Semoga Allah SWT memberi ampunan, melipatgandakan  pahala dan memberi tempat yang mulia. Mengasihi dan menyayanginya sebagaimana dia mengasihi dan menyayangiku ketika dulu.  Robigfirli wali-walidaya warhamhuma kama robayani shogiro. Amin !

 

Masa sekolah

Aku masuk Sekolah Rakyat kelas 1 di SD Karangtengah 1 mungkin itu tahun 1958. Sekolah dimana  juga ayahku mengajar menjadi guru. Aku harus belajar mandiri, tak boleh ngikut ayah terus. Waktu itu masih ada pembagian sabak. Belajar menulisnya di sabak, bukan pada buku. Kalau ada pekerjaan berhitung mendapat nilai 9 atau 10 dengan kapur dicapkan ditempel dipipi dengan bangga. Alat tulisnya namanya grip, sekali-kali harus diasah untuk meruncingkan.  Baru setelah kelas 2  atau 3 menulis di buku tulis. Waktu itu masih ada pembagian pinsil. Kalau istirahat bermain ke jembatan kereta api di sebelah utara sekolah. Jajannya wedang jahe seharga 5 sen secawik (semacam gelas kecil untuk minum teh yang terbuat dari porselen)  ataupun telur cecak. Semacam  makanan ringan dari kedelai dibungkus gula, besarnya memang sebesar telur cecak  

Baru ketika duduk di kelas 3, aku diajak ikut nenek di Banjarpatoman. Jadilah aku pindah sekolah di SD  XI Banjar di Ciamis Jawa Barat. Bersama guru-guruku Pa Maskan, Pa Suparman, Bu Aah dan banyak yang lainnya.  Aku harus belajar bahasa Sunda Kemudian pindah ke Banjarsari. Disana ada Bu Ooh, Pa Sarju dan yang lainnya Semoga semua mendapat balasan atas kebaikan menjadi guru-guruku. Teman-temanku Markun, Dede Amalia, Ela, Suprihartin.

Disana pula aku disunat yang pertama, harus merendam di air dingin pagi-pagi buta, ga sembuh-sembuh gagal lagi. Jadi harus di sunat dua kali. Aku ingat aku disunat/khitan di bawah pohon sawo hejo depan rumah, pakai penerangan strongking.

Aku duduk di kelas 3 atau 4 SR di Banjarsari.  Waktu itu aku anak baru pindah dari SR XI Banjar. Sebagai anak baru tentu saja aku masih peka dan berusaha menyesuaikan diri. Pelajaran menggambar aku suka banget. Dan ketika dipunten ( diberi   nilai) aku dapat angka 8. anak sekelas pada ngejek, aku tak tahan. Ceritanya aku menangis. Tapi bu guruku membujuk dengan kasih sayang. Terina kasih Bu Guru  Ooh (namanya Bu Ooh), semoga kebaikan ibu mendapat imbalan dari Allah SWT. Amin ! Tak lupa salam untuk teman-temanku seperti Tatang Hermankusumah, Ruhiat dan si cantik Yusi, Sri Mulyani dan Mulyono

 

Sekolah SMP

 

Saya masuk SMP 1 Banjarsari  Ciamis di Jawa Barat. Kepala Sekolahnya Bapa Iso Jayawinata. Kesan pertama masuk sekolah baru itu, gurunya banyak yang galak. Maklum, sebenarnnya guru SMP kan mengurusi lebih banyak anak dari pada guru SD yang hanya satu kelas. Lagi pula mungkin perlu schokterapi untuk kedisiplinan sekolah. Ingat yang keras seperti Pa Abdurahman

Di Banjarsari itu kami ikut adik nenek. Jadi nenek bulik. Aku baru berusia 11  tahun. Bulik dan nenek suka sekali menonton film di Purnama Theater, satu-satunya gedung bioskop di kota kecil itu. Hampir setiap ganti film nenek dan bulik dipastikan nonton. Waktu itu lagi ngetop film-film India, film Tarzan dan Ben Hur. Aku baru tahu kalau ada film untuk semua umur, 13 tahun ke atas serta 17 tahun ke atas.

Lucu sekali aku diajak lilik menonton film 13 tahun ke atas. Akupun di pakaikan baju besar  dan tebal. Waktu itu dikenal terbuat dari kain 1001. Aku tidak bisa membayangkan diriku sendiri. Anak usia 11 tahun, badannya kecil suruh pakai baju besar dan tebal, biar dikira usia 13 tahun. Di pintu masuk selepas beli tiket aku di teliti penjaga, gak tahu akhirnya masuk juga. Jadilah aku yang berusia 11 tahun menonton film untuk  usia 13 tahun keatas

 

( Refleksi )

 

Kembali ke Jawa

 

Waktu itu menjelang dan mulai meletusnya G 30 S PKI. Di sekolahku terasa sekali suasana persaingan organisasi politik mencari pengikut melalui organisasi siswa. Di sekolahku diantara IPPI underbownya PKI dengan GSNI dari PNI dan IPNU dari NU serta IPM dari Muhammadiyah. Saya dan teman-teman juga ditarik-tarik, dibujuk-bujuk untuk ikut. Untungnya waktu itu saya belum tertarik untuk kegiatan organisasi.

Nuraniku tersentak juga ketika mendengar berita radio adanya jenderal-jenderal yang diculik. Berita berikutnya mereka ditemukan dengan keadaan mengenaskan korban kebiadaban PKI. Kemudian diikuti gelombang kemarahan rakyat dengan aksinya menangkapi gembong-gembong PKI. Ada rasa-rasa takut, khawatir tetapi juga rasa senang dan ingin tahu.

Setahun kemudian saya dijemput Bapak pindah kembali ke Jawa Tengah ikut bapak, ceritanya di Banjarsari saya ikut kakek dan nenek. Waktu itu saya duduk di SMPN Banjarsari kelas 1, kemudian ayahku datang, meminta semua kembali ke Jawa. Mendadak menjelang keberangkatan kakek sakit dan meninggal di Banjarsari. Beliaupun dikebumikan disana. Semoga diampuni dosanya dan diterima amal baiknya. Amin!  Jadi yang ikut kembali hanya Eyang putri Walhasil kami, saya, ayah dan nenek saja yang kembali ke Jawa. Sekolahkupun pindah di SMPN Ajibarang.

Rumahku pada waktu itu di desa Cipete. Jarak dari rumah ke sekolah  kurang lebih 6 km, jalan kaki. Belum ada angkutan. Masih ada ruas jalan yang mennyeberangi sungai tanpa jembatan. Untuk berangkat ke sekolah aku harus bangun pagi kurang lebih pk 4. Mandi pagi, makan pagi dan segera berangkat. Saat berangkat itu masih pagi buta, jalan belum kelihatan, terkadang pakai obor klari daun kelapa. Ibuku terkadang mengantar sampai pinggir sungai sebelah barat rumah.

Temanku berjalan kaki ke sekolah adalah Kamsi dan Mahudi dari Batuanten, Kartim yang sama-sama dari desa Cipete. Pagi-pagi buta kami berjalan. Dengan hati-hati kami melangkah dikegelapan dan kerimbunan  jalan setapak menuju jalan desa. Setelah dijalan desa barulah perasaanku lega. Kamipun berangkat jalan kaki diiringi mulai terangnya hari. Beberapa saat kemudian mataharipun mulai muncul perlahan seolah mengejar perjalanan kami. Punggung kami mulai terasa hangat, sampai di sekolah sekitar pk 06.30

Pulang sekolah terkadang sama jalan kaki, namun pada hari-hari pasaran kadang-kadang bersama-sama teman ndompleng truk Mudah atau ……pengangkut gula. Seperti diketahui daerahku adalah penghasil gula kelapa. Setiap hari pasaran, cukong gula kelapa mengangkut dari daerahku beberapa truk. Truk itu dari  Jakarta katanya. Itulah yang kami cegat. Resikonya terkadang sampai sore baru lewat. Tapi sopir-sopir truk itu biasanya berbaik hati memperbolehkan kami ikut nebeng sampai Cilongok. Dari sana baru diteruskan jalan kaki sekitar 1 km ke rumah kami. Lumayan daripada harus jalan 7 km.

( Refleksi )

 

Aku putus asa

Sehabis tamat SMP aku ingin melnjutkan sekolah, apa daya ayah tak ada uang untuk membiayaiku melanjutkan sekolah. Keluargaku dalam puncak kesulitan ekonomi.Padahal aku sudah mendaftar ke SPG, tinggal berangkat testing tak ada celana panjang yang harus kupakai maupun uang. Padahal uang untuk ndaftarpun aku utang sama Mas Suswadi Rp 25 dan sampai sekarang aku masih ingat, ga pernah ketemu  hingga tak bisa nyaur itu hutang. Semoga Allah meliru   dengan berlipat ganda kepada nya. Amin.

 

Menjadi guru juga

Semula aku berangan-angan menjadi Angkatan Laut, kemudian menjadi dokter hewan, ketika sekolahku putus tidak bisa lanjut setelah SMP  aku ingin berkelana ke luar daerah dan pulang kalau sudah berhasil. Apa daya keadaan memaksa aku berbuat lain.

Akupun pindah ikut  mbakyu, menyusul ibuku di Klapasawit. Waktu itu masa-masa yang masih sangat sulit. Meskipun tidak sesulit waktu di Cipete bersama ayahku. Ibuku mutiaraku yang selalu memompa semangat, aku masuk kursus guru.

Untuk kursus guru itu saya disyaratkan sudah praktek mengajar. Jadilah saya  bakti di SD Tinggarwangi 1. Kursusnya di Margasana yaitu SPG C2, tapi kemudian aku memilih pindah ke KPG di Jatilawang. Tempatnya kursusnya di SD Adisara 1. Terima kasih untuk P Dirsan semoga kebaikan Bp mendapat balasan setimpal dari Allah swt. Amin. Akupun tidak lagi bekerja membantu pekerjaan mbakyu karena seharian penuh. Pagi praktek mengajar, sore kursus. Senior-seniorku di kursusan Mas Kirun, Sumartono, Diman, Ana Dimin, dll

Di sekolah praktekku ada teman-teman senior Yusup Alm, Sutrisno Alm, Suprapti, Wakiran, Rasiwan, Diyo dan anak-anak yang menarik Kirah dan Tri. Akupun sempat berpindah di Pagentan 2 dengan P Sarmin. Aku merasa terpukul dengan tugas itu, namun akhirnya kuambil hikmahnya. Aku kenang Kusinah dan lainnya

Aku berangkat pagi dari rumah ke sekolah tempat baktiku jalan kaki 5 km. Sehabis mengajar tidak pulang, terus ke tempat kursus, yang berjarak 3 km  menyebrang Kali Tajum dengan naik perahu tambangan. Bayarannya 4kg beras setiap semester. Pulang jam 5 jadi total dari tempat kursus ke rumah 7 atau 8 km. Sampai di rumah matahari sudah terbenam. Begitulah setiap harinya berangkat matahari belum terbit, pulang matahari sudah terbenam begitu ceritanya. Kecuali pada hari-hari libur Jadi selama itu aku tidak makan siang. Jajan kalau ada uang, jajanannya tape dengan bumbu pecel. Panas rasanya perut ini, makan siang hanya  kalau hari libur saja di rumah. Sehingga aku kena gejala penyakit mag

Pulang dari kursus bada magrib aku membantu ibu membuat tepung beras-nutu itu lho… numbuk beras agar menjadi tepung beras. Bahan membuat kue apem yang dibuat ibu. Dengan itu ibu berusaha untuk menopang hidup dan biaya kursusku. Sebelum ditumbuk beras di rendam dulu 4-6 jam. Tepung beras di aduk dengan gula, dibiarkan mengembang dahulu. Pokoknya resep memasak kue apem ibuku tak ada yang bisa meniru.

 Ibu memasak kue hampir semalam suntuk. Sementara aku tertidur kelelahan habis menumbuk beras. Pagi hari kue apem itu dijual ke pasar, dipotong-potong. Kadang-kadang ibuku juga menerima pesanan baik kue apem maupun lapis legit. Terutama kalau musim banyak orang hajatan. Setiap pagi itupun aku dapat bonus dari membantu membuat tepung itu secawik besar apem. Betapa nimatnya.

Penderitaan hidup semasa kecil menjadikan aku mencintai kesederhanaan. Aku bahagia dengan hal-hal yang bersahaja. Aku mudah bersyukur dengan nikmat yang dikaruniakan kepada hidupku, sepanjang hidupku.

Akhirnya menjadi guru aku diangkat sebagai guru tahun 1974, setelah selama 5  tahun menjadi guru bakti. Yaitu mulai tahun 1969 di SD Tinggarwangi 1 dan Pagentan 2, baru kemudian ketika diangkat pada tahun 1974 ditempatkan di SD Kalitapen 1. ( Memori untuk P Dirsan, P Wakiran, P Rasiwan, P Yusup  alm, B Suprapti di Tinggarwangi, serta Pa Yagi, P Kosim, P Sukrim, P Evin, P Karno, P Nasum di Kalitapen)

( Refleksi )

 

 

 

 

Menjelajah dunia kerja

 

Inilah rekaman penjelajahan dunia kerjaku. Mulai dari bakti November 1969 di SD Tinggarwangi 1, kemudian mutasi ke SD Pagentan 2, diangkat di guru PNS di SD Kalitapen 1. Mutasi ke SD Purwojati 2, SD Purwojati 1. Kemudian dipromosikan Kepala tahun 1983 di SD Karangmangu 3, SD Kaliwangi 1, dan SD Kaliputih 2, Disamping itu juga ditugasi di SMPN Purwojati, SMP Muhammadiyah Purwojati, Dipromosikan menjadi Pengawas tahun 1995 dan tahun 1997 PLH Kakanin di Kanin Wangon. Tahun 1999, dipromosikan menjadi Kasi Dikdas dan tahun 2000 Kasubdin SLTP di Dinas Pendidikan, tahun 2005 Kabid di DKSPM, dan tahun 2007 kembali menjadi Pengawas Dikmen Dinas Pendidikan 

Pertama kali mulai kerja mnjadi guru  bakti di SD bersamaan informasi tidak adanya pengangkatan guru. Akupun tidak terpengaruh. Yang pending aku dapatkan ijasah dari kursus guruku dulu. Banyak teman-teman seangkatan yang tidak tahan, mereka keluar mencari pekerjaan lain. Honor guru baktiku yang pertama hanya cukup untuk membeli sabun cuci pakaian dinasku.

 

 

Inilah ’Curriculum Vitae’nya yang kutulis pada tahun 2007

 

Nama                                       :    SUBAGJO

Nip                                          :    130378730

Tempat taggal lahir  :    Banyumas, 17 Juli 1952

Alamat      a.Kantor :    Dinas Pendidikan Kab. Banyumas Jl Perintis Kemerdekaan 75 Pwt.

                b.Rumah   :    Perum Kd.wringin Gang XII Blok A-46 Patikraja 53171

Telp                         :    0281.628436  – Hp 081804736204

Pendidikan                               :

    SD Tahun 1965

   SMP Tahun 1968

   SPG/KPG Tahun 1970

   IKIP Tahun 1986

   S2 Manajemen Tahun 2005

Riwayat Pekerjaan   :

Guru SD GTT Tahun 1971

Guru SD Tahun 1974

Kepala SD  Tahun 1983

Pengawas TK SD Tahun 1996

Ka Kanincam Tahun 1997

Kasi Dikdas Tahun 1999

Kasubdin SLTP Tahun 2000

Kasubdin Dikdas Tahun 2002

Kabid Kesej Sosial DKSPM  Tahun 2005

Pengawas Dikmen Tahun 2007

Jabatan lain                    :    Wakil Ketua I  Dewan Pengurus KORPRI

                                           Kabupaten Banyumas Periode 2005-2009

Pengalaman Profesi :

     Guru SD

     Guru SMP

     Guru SMA

     Tutor Paket B

     Tutor D2 PGSD

     Tutor MBS

     Tutor MBE

     Penatar CBSA

     Penatar PSTP Guru KS/Pengawas

     Penatar Angka Kredit Jbtn.  Guru

     Penyaji Materi Inovasi Pend Seminar di UMP

     Penjaji Materi tidak tetap Kependidikan di Balai Diklat Baturaden

     Dosen Tidak Tetap UTP unntuk Kependidikan, Pancasila

Hobby                      :      Membaca, olahraga, diskusi, korespondensi

Keluarga                   :      5 jiwa

Istri                           :      Susilowati/Guru PNS/Lh 19 Desember 1962 Menikah 9 Oktober 1982

Anak                         :     

     1.  Primananda Hari Agung Wicaksono (1983) /Kuliah Unsoed-Akatel

     2.  Nadia Ulfah Nurfadma (1988)/Kuliah Unsoed

     3.  Vinissa Nurul Aisyah (1990)/ Kuliah Unsoed

 
 
 
 
 
 

 

Purwokerto 12 April 2007

 

 

 ( Refleksi 5 )

 

Anak-Anaku

 

Tiga orang anakku, laki-laki yang pertama perempuan yang kedua dan ketiga. Masing-masing terlahir dengan seribu harapan, seribu doa, seribu kecintaan dan kebanggaan. Yang pertama terlahir bersamaan kumandang takbir menjelang Hari raya Idul Fitri di RS Jatilawang. Melalui bu bidan Sri Hartati almarhun, ibunya Anwar dan dokter Sutoto. Oleh karenanya diberi nama Hari Agung. Selebihnya nama-nama yang diberi embahnya. Yang kedua terlahir di rumah bu bidan Sri Sujiah Jatilawang dan yang ketiga di rumah bersama bu bidan Isnainarti. Terlahir dengan sangat mudah lancar dan sendiri-sendiri keriting rambutnya, alhamdulillah.

Aku hanya berharap tidak terlalu besar, semoga saja semua anak-anak menjadi anak yang solih dan solihah, mendoakan orang tua, mampu eksis sesuai dengan potensinya, berbuat yang terbaik di lingkungan keliuarga, masyarakat bangsa, negara dan agama.

Masing-masing mempunyai potensi yang membanggakan. Yang pertama mempunyai potensi akademik, musik dan komputer, yang kedua potensi sosial dan komunikatif, suka teater yang ketiga cerdas, cermat mengelola keuangan dan hemat. Mudah-mudahan semua harapanku dan harapan mereka terujud ( setiap saat aku teringat, baik mereka ada di rumah atau sedang keluar rumah saya, selalu kubacakan Al Fatihah, Aln-Nas, Al Falak, Al Ikhlas untukmu semua dengan harapan pahalanya untuk permohonanku atas aanak-anaku semua, keselamatannya, perlindunganya, petunjuknya dan kelak membesarkan nama-Nya, Allahu Akbar!!!).

( Refleksi 6 )

 

 

Sahabatku

 

Waktu saya duduk di SD  punya teman namanya Sutrimo Waktu itu sekitar tahun 1963 an duduk di kelas 3. Dia ikut buliknya Rajin suka bekerja keras dan benar-benar menjadi teman yang baik dan akrab  Sekali-kali saya bermain kerumahnya. Aku masih ingat dirumahnya-yang notabenenya rumah pak liknya yang besar itu. Dan baru satu-satunya yang ada radionya yang bermerk Ralin, itu saja masih siaran RRI Jakarta doang. Musik yang mengawali wartaberitanya masih terngiang khas sekali, cuplikan dari melodi lagu Rayuan Pulau Kelapa. Waktu  itu lagi ngepop lagu Patah Hati-nya Rahmat Kartolo

Ia benar-benar seorang teman yang baik, sulit dicari diantara teman-temanku. Tak pernah menyakiti hati, selalu setia kawan dan bersahabat sekali. Sehabis pindah saya tidak pernah ketemu lagi

Aku memang tidak suka bermusuhan, sehinga tidak punya musuh. Kesetiakawanan dan pertemanan sungguh suatu hal yang manis untuk dikenang. Ketika di SMP kawankawanku Kartim, Samsi, Mahudi.

Ketika kuliah banyak teman-temanku dari kelompok Bumiayu Abdul Jamil, Mustoyo, Bahori, Toha

 

( Refleksi 7 )

 

Suka baca

 

Sejak kecil aku suka membaca. Barangkali kesukaan itulah yang mendukung aku dalam tugas khususnya di bidang pendidikan. Dimana aku harus bannyak ceramah untuk ilustrasi. Kebetulan sekali aku juga ditugasi lilik untuk menunggu sebuah taman bacaan, namanya Taman Bacaan Cerdas di Banjarsari.

Hampir semua buku saya lahap ( baca) . Padahal ukuran untuk usia diatasku Kelas IV atau V saya sudah biasa membaca novel Cowboy. Buku adalah sumber ilmu, dengan banyak membaca buku lebih membuka wawasan. Buku adalah jendela dunia . aku juga senang membaca majalah bahasa Inggris Window on The World dan  Reader Digest. Majalah-majalah seperti Mangle, Penyebar Semangat, Intisari

Kegemaranku membaca ternyata Sangat bermanfaat ketika menempuh ujian, demikian pula kegemarnku memahami Bahasa Inggris.

( Refleksi 8)

 

Jumat 8 September 2005

 

Malam Jumat habis magrib. Esolknya ufah akan mengikuti Opspek.  Waktu itu lagi mandi dan  ketika terdengar benda bertat jatuh semula aku mengira sekedar tempat cucian. Tahunya Ufah terpeleset dan kemudian jatuh. Ya Allah aku terkesiap. Keluarga menjadi cemas Terdiam beberapa saat menangis beberapa saat

Ya Allah musibah kuterima. Aku teringat betapa kukasihinya anak ini . dan beberapa kali jiwanya terancam. Waktu kecil jatuh dari Vespa ketika berkunjung kerumah Daryanti di Baturraden, waktu masih bayi didera oleh sakit paru-paru.  Ya Allah jerit bathinku. Akankan kau mengambil orang-orang yang kucintai sebelum aku cukup menyelesaikan tugas misi-Mu sebagai hamba yang terlahir di dunia. Qurrotan ayun wajalni lil mutaqinna immamman

( Refleksi 9 )

 

 

15 September 2005

 

Di noktah ini usiaku 52 tahun . Tinggal beberapa tahun lagi usiaku, atau mungkin hitungan hari, jam atau detik. Sebab garis suratan Tuhan tidak kita ketahui. Banyak yang sudah kualami dan kurasakan. Tapi satu bahwa keyakinan semakin besar, agung dan kuasa tuhan semakin nampak  dan menampakan dalam setiap desah nafasku. 

Demikian besar nikmat yang telah dikaruniakan kepadaku, hidupku, keluargaku. Semakin naïf rasanya diri ini. Aku semakin haus akan petunjuk dan ridha-Mu, ya Allah. Oleh karena itu akupun bermaksud memenuhi panggilan Allah dengan menunaikan ibadah haji insya Allah Desember mendatang.

Sudah kubulatkan kepasrahanku, Islamku. Hanya dengan Petunjuk hidayah dan innayah Allah swt-lah jaminan sisa hidup beserta dengan kegelapan yang menyelimutiku serta ketidak tahuan bagaimana hidup mendatang dapat lebih tegar kujalani.

Kalaupun aku dipanggil Allah di tanah suci dan tidak kembali dari perjalanan, aku sudah ikhlas, semoga saja anak-anakku mendapat petunjuk, bimbingan sehingga mampu menjalani hidup dan eksis  sesuai denga potensi masing-masing. Semoga anak turunku mendapat perlindungan Allah SWT. Amin

( refleksi 10 )

 

 

Pagi itu

 

Pagi itu seperti biasanya saya jalan-jalan. Ini kebiasaanku untuk meningkatkan kebugaran dan kesehatan.Waktu itu jam menunjukkan sudah pk 07.15 anak SD seharusnuya sudah tak ada di jalan karena jam  masuknya  pk. 07.00 Ketika jalan menuju pulang ke rumah,  searah denganku berjalan , berjalan juga seorang anak sekolah. Kutaksir ini anak kelas 2 an melihat postur nya yang kecil. Raut mukanya dingin, dan kelihatan tenang-tenang  saja Terlintas dalam fikirankur, .. ini anak pasti terlambat, … tapi kok… kelihatan tenang saja?  Maksud saya, kok tidak terlihat anak ini takut atau terburu-buru kasrena mersa telat,.. gitu lho! Secara iseng sambil tetap berjalan kuulurkan  tanganku untuk menuntunnya. Uluranku baikku ternyata tidak ditolak. Sambil terus berjalan kemudian kuajak omong-omong disampingku, aku berusaha untuk  bersikap ngefrend, .. gitu.  Aku coba mengajukan pertanyaan

 

 à    Masuk jam berapa

 à    07,00

 à    Terlambat, ya ?

 à    ………. ( Diam saja )

 à    Ini kan sudah jam 07.15 kamu ngga takut terlambat ?

 à    Nggak apa-pa

 à    Nggak dimarahi bu guru ? Eh bu, apa pak guru ?

 à    Bu Guru

 à    Enggak dimarahi ?

 à    Engga. Sudah biasa

 à    Bu gurunya siapa ?

 à    Bu Eli

 à    …….. (Sambil tetap kutuntun aku berpikir…. kok begitu ? )

 à    Rumahnya mana ?

 à    Tanjung

 à    Hah …. ( aku terkesiap, karena aku pikir terlalu jauh anak seukuran kelas dia )

 à    Kelas berapa

 à    Kelas 4

 à    Kenapa ngga sekolah yang dekat saja misalnya di Karangpucung

 à    Ngga punya uang

 à    Lho apa pindah sekolah pakai uang

 à    Ya untuk mendaftar

 à    Trus ini tadi diantar apa naik apa ?

 à    Naik angkot, ..  terus jalan………..

 

Dua sisi dari pembicaraan yang kudapatkan di lapangan. Pertama aku sangat prihatin dengan pendidikan di sekolah tadi dan aku khawatir tidak hanya di sekolah itu saja tetapi juga merambah sekolah lain. Kupikir sekolah salah satu fungsinya adalah pendidikan watak. Pendidikan watak …. Itu yang membuat watak bangsa ini. Nation and Character building, gitu lho. Saya melihat sekolah tidak atau tepatnya kurang mendidik anak berwatak disiplin, tanggung jawab dan kerja keras. Ini penyebab keterpurukan bangsa… demikian kupikir Ah… mudah-mudahan aku salah analisis

Yang kedua betapa pendidikan tidak berpihak kepada mereka yang lemah dan miskin. Untuk pindah sekolah saja diperlukan biaya tidak sedikit dengan uang transport setiap haripun belum seimbang.

Mudah-mudahan ini bukan sampel yang mewakili keseluruhan

 

Keuangan

 

September 2005 ini keuanganku dalam masa krisis. Betapa tidak, hampir bersamaan aku harus menyiapkan biaya  Naik haji, Agung bayar semester, Ufah membayar uang masuk Unsoed, Veni masuk SMU. Belum lagi mobil, pajak sepeda motor, sampai telepon .Sampai-sampai aku mengajukan kredit BTN untuk nyontok utang yang masih sisa kredit dari 15 juta sisanya menjadi 33 juta, belum lagi hutang sama ibu. Duh ….duh. mudah-mudahan setelah masa ini kulewati ada perbaikan. Jual rumah di Randegan ngga laku-laku. Masa ini benar benar aku mendapat ujian dari Allah SWT. Sisa sisa kepercayaanku kepada anak-anaku juga diuji terutama Agung,  aku tetap masih berharap dapat ditumbuhkan kembali. Bagaimanapun anak-anaku adalah harapanku di masa depan.

 

Naik haji

 

Kepedihanku dimasa akhir-akhir ini semakin mendorongku untuk mendahulukan memenuhi rukun Islam yang ke lima menunaikan ibadah haji ini. Kepedihan karena kegagalanku mendidik anak dan harapan anakku yang pertama sebagai tumpuan harapan.  Kenyataan yang yang kupertanyakan … kepercayaan serta tanggungjawabnya, kepedihan karena suasana kerja yang sepertinya ….aku dilempar begitu saja. Ini akan kujadikan momentum untuk introspeksi pada diri ku. Introspeksi akan semua yang telah aku perbuat dan bersikap. Baik dalam keluarga maupun pergaulan. Semoga semua dosa dan kesalahan diampuni dengan memenuhi panggilan Allah ke tanah suci.

Mudah-mudahan dengan memenuhi panggilan-Nya , menjadi tamu-Nya keluhan kepedihanku akan didengar dan mudah-mudahan anak-anaku bisa mengerti. Mungkin aku agak memaksakan diri. Namun kepedihan demi kepedihan ternyata semakin mendorong aku lebih mendekatkan diri kepada-Nya.

Sudah kubulatkan tekadku, meski ibadah haji ini mengandung resiko. Resiko yang paling besar adalah aku dipanggil yang maha kuasa meninggal di tanah suci, itupun aku sudah rela. Meski semoga Allah mengampuni segala dosa-dosaku serta melindungi keluargaku, memberi petunjuk serta kemampuan eksis anak-anakku semua dalam hidupnya.

 

( refleksi )

 

Akhirnya berhaji juga

 

DOA HAJIKU

 

Ya Allah ampunilah dosa-dosa kami

Dosa-dosa orang-orang tua kami

guru-guru kami

peminpin kami, muslimin dan muslimat

Jadikan kami bersama, dalam golongan orang-orang yang mampu mensyukuri nimatMu

dan bukanlah golongan orang yang kufur akan nikmatmu

Kami datang untuk memenuhi panggilanMu, ya Allah

Oleh karenanya terimalah kami

Ampuni segala dosa-dosa kami

Jadikan semua akhir yang baik bagi kami

Perjalanan yang penuh nikmat ibadah kepadaMu

Mudahkan urusan kami

Lancarkan upaya kami

Obati kami dengan dibukakan pintu rakhmatMu, ya Allah

Limpahkan rezeki yang bermanfaat dunia akhirat

Jadikan kami keluarga yang sakinah, mawadah,  wa rakhmah

Anak-anak yang shalih dan shalihah

Jadikan kami Wajalni  lil mutaqina imaman

Kabulkan cita-cita mereka

Mesrakan hubungan keluarga kami

Ya Allah

kabulkanlah keinginan anak-anak,saudara-saudara, kerabat, handai taulan kami

yang dititipkan lewat doa kepada kami

Yang ingin bisa menunaikan ibadah haji

Yang penyakitnya ingin kesembuhan

Yang ingin tambah atau punya momongan

Yang ingin dikeluarkan dari permasalahan yang tak kunjung terpecahkan

Begitu besarkepercayaan mereka kepada kami, ya Allah

Oleh karena itu demi kebesaranMu ya Allah, kabulkan mereka

Sepulang dari ibadah ini ya Allah

Bimbinglah dan beri kekuatan untuk dapat menjaga kemabruran haji kami

Mudahkan usaha kami

Limpahkan rejeki kami

Tempatkan kami di lingkungan kerja yang kondusif dan sesuai

Bimbing dan lindungi mereka

 

 

WASIAT

 

Ibadah haji bapa dan mama merupakan kewajiban

Doakan untuk menjadi yang mabrur

 

Mungkin Bapa dan mama bisa pulang

tetapi jika tidak, tolong  untuk diihlaskan

Salah satunya bisa, bapa mama meninggal di sana

itu bapa mama juga ikhlas

 

Jangan lupa sembahyang

doakan selalu bapa dan mama

agama islam adalah pedoman hidup dunia ahirat

amalkan apa yang diperintah, jauhkan yang dilarang

 

jika bapa mama meninggal

lunaskan hutang-hutang

minta tolong dengan mas aris, mba yuni,mbah

om yono, om yitno,uwa bari

 

jalani hidup dengan syariat agama islam

karena itu akan membawa kebahagiaan dunia akhirat

diluar itu kebahagian semu

kelezatan sesaat

 

rukun-rukunlah selalu

doakan bapa dan mama lewat sholat-sholat kalian

sebab hanya anak-anak yang shaleh yang

yang merupakan amal bapa mama yang tidak terputus

 

( Refleksi )

 

Di Toko Raja Baud

 

Suatu hari aku betugas mejadi narasumber penyuluhan organisasi pemuda dan LSM. Kebetulan lokasinya di Hotel Remaja Kebondalem. Siang itu belum masuk jam saya, sehingga saya keluar iseng-iseng masuk toko sambil mencari alat  kelengkapan ‘bengkel kecilku’.maksudnya ada obeng, drei dan sebagainya , aku masuk toko raja baud. Sebuah toko besi yang menjual bermacam-macam produk besi. Dari gorok, bor, drei obeng hingga macam-macam ukuran baud.

Pelayannya pemuda tanggung sambil beli beberapa alat yang kuperlukan aku melihat-lihat peralatan lainnya. Harganya cukup murah disitu, sayang aku lagi bokek. Banyak kebutuhan yang harus kucukupi dengan gajiku ‘gaji kepala bidang’ tapi nyatanya pas-pasan. Waktu itu pembeli lagi lengang karena masih agak pagi sehingga saya sempat omong-omong ngalor ngidul dengan pelayan tokonya.

‘mas ini berapa…….itu berapa …….boleh kurang ndak

setelah beberapa alat kubeli  aku masih melanjutkan omong cas cis cus kesana kemari.

’ eh, …ada kunci T ga ?

’ kunci apa !? ( dikira salah dengar)

’ kunci T’ (kuulangi)

’ Ala …bapak, buat apa si ?

’ah, ngga’

’lho bapak kan PNS, masak si cari kayak gitu

’ya wong gaji ngga cukup si 

’ ga malu si, nanti kalau ketangkap polisi

 

Refleksi  berapa

 

Kembali ke laptop

 

Maret 2007 aku pindah lagi dinas, kembali lagi ke dinas semula –memang atas permintanku melalui surat permohonan kepada pejabat, yang meengecewakanku-.

Berbagai komentar dan peristiwa yang mengikuti kepindahanku ini. Teman-teman ada yang komentar ‘ kembali ke laptop, nih ! ‘ kaya acara empat matanya tukul arwana aja.

Ada yang memberi saran, hati-hati lho, banyak yang tidak suka. Ada juga komentar ‘ Bapak ini, memang digdaya’, Bagian kepegawaian berkomentar, katanya keberuntungan ada pada saya. Aku  sendiri ga ngerti apa artinya semua  ini. Aku menjalani saja aliran kehidupan ini. Meski ada kalanya gembira, sedih dan kecewa.

Gimana kira kira komentar anak-anaku. Inilah beberapa dintaranya.

’Pak, bapak pindah apa ? Pindah kemana ?

’Pak, bapak ngapain pindah?.

’Jadi  apa sekarang ? 

Bahkan yang paling kecil berkomentar

’Ngapain jadi pengawas ?

aku masih ingat tentang anak-anaku ketika masih tugas di Wangon dulu tahun 95 s.d 99an. Ktika suatu ketika menjabat kepala unit, aku punya seorang sekretris. Masalah keuangan tidak pernah kupegang sendiri. Alih-alih kalau ada tugas luar dsb. Aku diberi uang jalan oleh sekretisku, anak-anak mengira dialah kepalanya. Apalagi dia punya mobil, saya tidak.

Refleksi khusus

 

SMA Diponegoro

 

18 April 2007

Smu Dip sumpiuh

Ali Fikri

Kyai Abd Rozak

Sokaraja Lor Pondok Pesantren

Penunggu sekolah

Macan

Dilepas dan di kurung

Dengan wirid bacaan

500 ribu

dibeli

macam-macam

ayem aman-aman saja

suruh penjaganya

umat kliwon diberi makan sate 2 sindik

 

 

 

Sabtu 11  Aug  2007

 

 

Ya, Allah aku mengadu. Saat ini,  jam ini perasaanku sangat galau. Aku merasa berada didasar jurang yang paling dalam. Hatiku terhempas, semangatku pudar. Terkoyak oleh kenyataan yang kuhadapi. Pedih rasanya…. Oleh karenanya ya, Allah hanya kepadamulah aku bersandar ….Allahu shamad.

Harga diriku tiada, aku merasa tidak menjadi suami yang baik, tidak menjadi ayah anak-anaku yang baik. Berbagai kecaman dan kemarahan kuterima. Aku hanya menjalani perintahMU ya Allah untuk .. tetap bersabar.

Seorang tua yang menghadapi  problematika ketidak harmonisan hubungan keluarga dan lain-lain, .. dan lain-lain. Seperti dalam ‘Robohnya surau kami’ saya hanya berpikir analog figur orangtua yang berkilah

‘ Bapak ini sudah tua

‘ Kenapa harus marah

‘ Bapak  sudah tua, ngga mau iman ini rusak, jika marah

‘ Bapak takut kalau kemarahan Bapak membuat rusak iman ini

 

 

Manusia Berubah

 

Banyak yang berubah baik yang terdapat dalam diri maupun diluar diri kita. Aku ingat ketika masih kecil dulu. Waktu itu aku baru pindah dari ikut ayah ibu kemudian ikut mbah di Jawa Barat. Tepatnya di Banjar. Dan ketika usaha warung mbah bangkrut kemudian ikut di adiknya Mbah  di Banjarsari. Ketika baru pindah aku tidur di kamar yang kecil dan pengap. Ditambah diluar baru dikuliti kayubakar dari pohon Sliridia. Waktu itu sungguh tersiksa dengan bau kayu  bakar yang masih basah itu. Rasa-rasanya aku menjadi pusing semalaman, seperti orang mabok.

Waktu berjalan terus, ketika aku tamat SMP, tidak melanjutkan sekolah. Akupun ikut mbakyu di Klapasawit. Dari yang keseharian biasa hanya bersekolah, berubah total menjadi bekerja. Setiap harinya ada saja pekerjaan yang harus aku ikuti. Tiada hari tanpa kerja, begitulah rasanya. Kalau ingin makan, ya … kerja demikian kata kakak Junaidi, suami mbakyuku.

Ada-ada saja mulai dari mencari kayu bakar, membelah kayu bakar, menyiangi sawah, ndaut ( mencabut benih padi dari persemaian), mencangkul sawah maupun mendaur lahan gaga ataupun alas (hutan milik) untuk ditanami bermacam, macam kayu. Mulai kayu untuk rumah sampai kayu bakar. Disitu saya tidak lagi mabok dengan kayu Sliridia. Aku sudah akrab. Ya itulah perubahan.

Bagaimana rasanya bengkek (sakit pinggang) kalau ndaut, duh panasnya pinggang kalau matun (menyiangi sawah ) apalagi kalau mata kecolok kena ujung daun padi aduh, duh…sakitnya pundak ini kalau terpelintir memikul kayu bakar, celakanya jalanan naik turun, aduh rasa-rasanya napas mau putus. Gatalnya, .. sama panasnya itu tuh …kalau menuai padi. Sakitnya kalau jari ini kegigit tuai, itu tuh maunya menuai padi, dan tahu kenapa sering menggigitnya jari pisau ani-ani.

Itu semua sakitnya, tapi enaknya banyak juga. Badan yang capai kerja makan dengan lauk apapun duh nikmat sekali. Sambal, sayur bening, bahkan jika haus minum air langsung dari mata air dengan daun pisang atau telapak tangan. Bahkan langsung disosor seperti binatang minumpun, tak menjadi soal. Pikiranku saat-saat itu istirahat, sampai-sampai aku mersa takut menjadi beku. Kalau mencari kayu bakar sering juga menemukan tandanan pisang yang matang. Atau sengaja diperam pada pencarian hari –hari sebelumnya.

Perubahan lain dulu ketika masih kecil tak suka pada hal-hal yang berbau santri, rasa-rasanya kolot, jorok. Barangkali kondisi saat itu memang imejnya seperti itu. Pengamalan kehidupan beragama, rasa-rasa enggannya lebih banyak. Ternyata sekarang semua telah berubah. Semakin kuyakini ajaran agama memberi petunjuk dan tuntunan bagi penganutnya kearah hidup bahagia. Perjalanan hidup telah menjadikan berubah semua.

Ketika kecil aku malu tanganku halus

Ketika kecil hidup sederhana mudah

 

 

(Refleksi berapa)

 

Bangsa yang Tidak Efisien

 

62 tahun lebih Indonesiaku merdeka. Namun kondisi sosial masyarakat dan kehidupan bangsa ini masih memprihatinkan. Masih belum membuahkan butir-butir kesejahteraan seperti yang dicita-citakan bangsa ini sesuai rumusan para pendirinya. Memang ngurus bangsa yang sedemikan besar ini tidak mudah. Tapi refleksi ini mengisyaratkan perlunya mengubah paradigma para pemimpin bangsa untuk lebih berani mengambil keputusan yang tepat. Bangsa ini bangsa yang besar, pernah jaya, namun sekarang hanya tinggal noktah sejarah saja. Bangsa ini tinggal bangsa yang besar jumlahnya saja, kualitasnya ….. ? Saya prihatin  Bangsa ini, membuat saya masygul… betapa tidak. Tindak korupsi dimana-mana, pemborosan dimana-mana, Generasinya bukan generasi yang suka kerja keras ( pengamen jalanan berapa  prosen generasi mudanya ), gaya hidup konsumtif melanda semua keluarga  bukan hanya keluarga elit saja- anak miskinpun bergaya konsumtif, disiplin …. Aduh sangat menyedihkan, budaya antri … kalau diawasi saja, kalau tidak  main serobot sesukanya.

Minyak bakar dihambur-hamburkan di jalanan, ga mau tahu bahwa minyak bumi kita tidak tak terbatas, belum yang diselewengkan secara ilegal. Mengedepankan dan memperlihatkan prestise sudah makin menjadi mode hampir di semua lapisan sosial ekonomi masyarakat. Rumah, mobil, sepeda motor sampai perabot, bahkan hape,…. yang penting pakai … dapat dari nicil .. urusan belakang. Berapa sudah pulsa yang dihambur-hamburkan ( maaf.. maksudnya uang ). 

Si kaya memperlihatkan kekayaannya, seolah mencibir si miskin. Si Penghambur uang berfoya-foya di depan kaum duafa. Dari rumah bordil kedengaran cekikikikan penghuninya oleh anak-anak polos yang belum akil balig. Rumah mewah dibangun disamping hunian rumah kumuh. Yang kaya semakin kaya sedang si miskin semakin terhimpit kehidupan. Pesta  dan dansa ketika sebagian bangsa sedang terkena musibah gempa, gunung meletus, tsunami, banjir dan tanah longsor. Listrik dihambur-hamburkan dirumah mewah dan tempat hiburan, sementara banyak orang antri minyak tanah berhari-hari. Pajak dan penghasilan belum memperlihatkan berkeadilan.

Kenapa kita tak berani belajar Perlu suatu keberanian besar untuk mengubah bangsa ini.  Kita masih harus belajar dari India dengan Mahatma Gandhinya.. Lihat bagaimana pertama kali Gandhi mencanangkan  pakai produksi sendiri, bangsa India bangga dengan pakaian belacu putihnya. Kemudian pada waktu itu. Cina berani kembali kepada budaya naik sepeda….yang aman dan ramah lingkungan, meski mereka mengekspor sepedamotor. Konon hanya ketua partai saja yang pakai mobil.

Singapura berani menerapkan aturan yang tegas mengenai disiplin di jalan, sampai puntung rokok saja, orang tidak berani membuang di sembarang tempat, kalau tidak ingin didenda. Budaya kerja … lihat di Cina. Jepang dan Korea. Disana anak mudanya malu untuk mendapatkan uang 15 ribu dengan mengamen, lebih suka 15 ribu dengan kerja keras . Dikantor-kantor pemerintah berapa waktu yang habis terbuang untuk  ….non kerja. Pungutan non ilegal justru di instansi dan pejabat yang harus membrantas merajalela. Budaya korupsi plus upeti membudaya di lingkungan pejabat pemerintahan, sampai-sampai rakyat jelata. ( ini benar.. rakyat jelata yang tidak punya power juga banyak korupsi, tidak jujur ). Kepercayaan banyak disalahgunakan, belum lagi sikap tidak peduli, mudah tersingung, mudah sekali terjadi tawuran, perbuatan main hakim sendiri serta anarkhis. Aku benar-benar merasa masygul

Manakah pemimpin bangsa yang berani membangkitkan bara api perjuangan untuk mengubah ini semua ?

Selamat  pagi Indonesiaku, Selamat tahun baru 2008.

Aku  masih tetap berharap masih ada hari esok yang lebih baik bagi Indonesiaku.

 

 

Doa, doa  dan ….  doa

 

Ya Allah ya Rabbi

Kupuja namaMu,  Maha Rahman dan Maha Rahim-Mu

Aku bersimpuh di hadapanMu yang Maha Mendengar

Kutundukan kepala, seraya kutengadahkan hati

Mengharap ampuan dan ridla

berkah,  rahmah dan innayahMu

 

Ya Allah ya Rabbi

Curahkan rizki dari-Mu wahai dzat yang Maha Pemberi rizki

Agar aku daapat memperoleh rizki yang halal

Curahkan kesehatan darimu Yang Maha Pemberi

Agar aku selalu dalam kesehatan yang prima

Curahkan kekuatan dariMu Yang Maha Perkasa

Agar aku kuat dalam menghadapi segala persoalan dan cobaan

 

Ya Allah Yang Maha ……………….

…………….

 

Ya Allah ya Rabbi

Sesungguhnyalah sholatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk-Mu

Yang memiliki kehidupan ini

Jadikanlah aku masuk kedalam golongan orang-orang yang engkau ridlai

Orang-orang yang mampu mensyukuri nikmat-Mu

 

Ya Allah ya Rabbi

Sesunguhnyalah aku meminta

kebaikan hidupku di dunia

Kebaikan hidupku di kampung akhirat

Dan hindarkanlah aku, dari pedihnya siksa neraka

 

 

Ampunilah aku

Kedua orang tuaku

Pendahulu-pendahuluku

Guru-guruku

Kerabatku

Pemimpin-pemimpinku

Semua orang yang telah berbuat baik padaku

 

 

 

Refleksi

 

Iih… Bapak ko selalu marah-marah !.

Saya terhenyak oleh ucapan spontannya itu. Entah bagaimana semangat saya lenyap seketika. Saya ingn sekali anak-anak saya tumbuh dewasa, memahami dan bisa bertanggungjawab. Tetapi Veni mengacaukan hampir seluruh angan-angan  isi kepala saya hari itu.

Sambil menahan perasaan yang tak menentu saya menyadarinya, tatapannya membuat saya merasa menjadi tertuduh yang sedang diadili. Pengalaman itu membuat saya merasakan, betapa hampir tak mungkin saya memperoleh kehidupan ideal seperti yang saya angankan. Anak tumbuh dewasa tetapi dengan selalu memanuhi keinginan saya. Saya tidak usah marah tetapi anak- anak tumbuh dewasa. Begitu banyak faktor yang mempengaruhi kehidupan tak semuanya dalam kendali saya.

Diluar sana banyak aturan yang tolok ukurnya berbeda dengan yang kita ajarkan dirumah. Belum lagi banyak kecurangan yang tak terhindarkan dalam kehidupan dan pergaulan anak-anak kita. Ada banyak ancaman stres yang menggelisahkan  anak maupun orangtua. Dalam keterbatasan kita tidak mungkin memberikan seluruh waktu kita untuk anak-anak, meski kita sangat menyayangi mereka.

( refleksi     )

 

 

andaikan saja

andaikan saja aku ada kemampuan

akan kubuang air mata yang membasahi pipi ini

akan kubayar semua biaya kuliah dan kelengkapan yang kau butuhkan

agar kamu dapat kuliah dengan tidak perlu merasa rendah diri

 

andaikan saja aku ada kemampuan

akan kubuang air mata yang membasahi pipi ini

akan kubelikan kamu sebuah handphone yang agak patut

agar kau bisa memberi tahu dengan sms dimana berada ketika ayahmu rindu

 

andaikan saja aku ada kemampuan

akan kubuang air mata yang membasahi pipi ini

akan kubelikan kau sebuah sepedamotor yang agak patut

biar kau dapat pergi kuliah tanpa bergantung kepada orang lain

 

andaikan saja aku ada kemampuan

akan kubuang air mata yang membasahi pipi ini

kutumpahkan semua kasih sayangku

tanpa engkau merengek memintaku

 

( Refleksi )

 

Kala Saat tidak  berpihak kita

 

Ada kalanya seseorang mengalami saat-saat tidak menyenangkan. Tidak lulus Ujian Nasional, karier gagal, usaha runyam, upaya berantakan, celaka 1 sampai dengan celaka 12, semua membuat seseorang menjadi frustasi dan kecewa. Jika ini menimpa kita apa yang harus dilakukan, protes, demo, banting piring, pukul orang lain atau bakar sekolah. Semuanya bisa terjadi, Zisou saja – itu lho pemain terbaik piala dunia 2006 dari Perancis-  karena saking kesal dan frustasinya sampai menanduk Marco Materazi lawan main timnya dari Italia dalam final piala dunia kemaren dulu. Seseorang yang frustasi biasanya melampiaskan rasa kesalnya sampai-sampai diluar kontrol, lepas emosi.

Tetapi apakah itu semua mampu mengatasi semua permasalahan, biasanya emosi yang tak terkontrol semacam itu, terlampiaskan oleh sikap seperti itu sesaat, justru cenderung lebih banyak menjerumuskan dan membuat seseorang menyesal dikemudian hari. Dengan kata lain merugikan diri sendiri, Orang pinter bilang ternyata kecerdasan emosi juga perlu dilatih.

Jika dipikir kegagalan memang menyakitkan, namun kegagalan hari ini bukanlah akhir segala-galanya, ketenangan emosi sangat diperlukan dalam rangka mendewasakan diri kita.

Dalam satu Hadisnya Rasulullah memberi tuntunan kepada kita bahwa ketika kita mengalami situasi kecewa atau frustasi seperti apapun kita diajarkan untuk tetap mengerjakan apa yang mesti kita kerjakan dengan tawakal dan berdoa. Kita telah merasa tidak mampu menanggung beban hidup ini, yang sebenarnyalah oleh karena “ kesombongan diri kita sendiri ”  Oleh karena itu sebenarnya dituntunkan bagi kita untuk selalu menjalani hidup ini dengan 4 langkah :

 

1.        Luruskan niat

2.        Sempurnakan ihtiar

3.        Ikhlaskan hasil

4.        Tawakal

 

Salah seorang teman saya, Sri Mulyono namanya masih kuingat menyitirnya dengan pepatah Jawa yang mengajarkan :

 

1.        Lalekna apa sing wis kedaden

2.        Lakonana apa sing saiki didhawuhake

3.        Tampanana kanthi ikhlas apa sing sesuk bakal tumiba

 

Janganlah kita menjadi orang yang pesimistis, karena orang seperti itu biasanya melihat hambatan dan kegagalan sebagai ancaman, yang membuatnya miris dan ‘ngelokro’   Lebih baik menjadi orang yang optimistis, yang mampu melihat hambatan atau kegagalan sebagai sesuatu yang berpotensi memunculkan peluang, yang harus dimanfaatkan bahkan jika perlu direbutnya.

Thomas Alva Edison contohnya , ia telah mampu menyumbangkan ide penciptaan listriknya untuk kemaslahatan umat manusia, dan itu perlu diketahui setelah melalui kurang lebih 40 kali kegagalan termasuk yang mencederainya.

Dari Pak Eko Budiharjo – itu lho mantan Rektor Undip – pagi ini saya mendapat pengajian, katanya :

 

·          Bila satu pintu tertutup, carilah pintu lain yang terbuka.

·          Bila semua pintu tertutup, carilah jendela yang terbuka.

·          Bila semua jendela juga tertutup, carilah atap yang terbuka,

·          Dan bila semuanya sudah tertutup, kembalilah cari pintu yang tak pernah tertutup, yaitu pintu doa.

 

Dengan demikian kegagalan dan kefrustasian tidak akan berhasil membuat kita kerdil ataupun terjerumus, justru akan selalu dapat membuat kita bangkit semakin mantap menatap hari esok. Pada sebuah majalah sosial saya mendapatkan essei seperti saya kutipkan  berikut :

 

Dengan mengeluh keadaan tidak akan menjadi lebih baik. Engkau habiskan umurmu sambil mengeluh dan bersedih. Engkau duduk berpangku tangan sambil berkata : Zaman telah memerangiku. Sementara engkau belum mencoba bersusah payah, maka siapa yang akan melakukan untukmu ?

Berapa kali kau katakan : Negaraku sedang sakit, sementara engkau adalah “ penyakitnya “ itu sendiri. Kesialan adalah alasannya, dan apakah engkau telah memelihara kehormatan dirimu ?

Percayalah, sudah saatnya berani untuk menggerakan tangan dan kaki mencari sesuap nasi. Kalau punya sawah, bertanilah. Kalau punya kebun, tanamilah dengan tanaman produktif. Kalau punya modal, berwirausahalah. Buka warung, toko atau berdagang. Kalau punya ketrampilan bukalah jasa. Entah itu tukang potong rambut, laundry kecil-kecilan, tukang pijat, menjahit, menggambar atau jasa boga. Kalau hanya punya tenaga tawarkan ke kanan kiri untuk memotong rumput, merawat tanaman, kuli angkut atau pengasuh balita. Kalau punya keahlian khusus dalam olahraga, tekunilah. Kalau pinter nyanyi jadilah penyanyi untuk acara hajatan, sunatan atau kegiatan kampung. Intinya mulailah bekerja. Sudah saatnya untuk keluar dari selimut kemalasan, keterkungkungan dan kehinaaan.

Berangkatlah, niscaya engkau mendapat ganti untuk semua yang engkau tinggalkan. Bersusah payahlah, sebab kenikmatan hidup hanya ada dalam kerja keras. Singa yang tidak keluar dari sarangnya, tidak akan mendapat mangsanya. Biji emas yang belum diolah sama dengan debu di tempatnya. Ketika orang berangkat dan mulai bekerja, dia akan mulia seperti bernilai emas.

 

Salah satu Hadits Rasulullah yang lain menyatakan :

Sekiranya salah seorang dari kamu pergi mencari kayu bakar dan memikulnyan diatas punggung, itu lebih baik daripada minta2 kepada orang lain yang mungkin memberinya atau menolaknya (HR Bukhari dan Muslim )

(Refleksi)

 

 

Kebahagiaan karena kesederhaanaan

Belum lama ini aku sempatkan berkunjung ke rumah mbakyu, menyela diantara kesibukan kerja lapangan ku. Yang penting diparingi sehat, apa yang terjadi dikhlaskan sudah, demikian ketika kutanya keadannya, dan sana sini tentang anak-anaknya  yang nota bene  berati ponakan-ponakanku itu.. Ketika aku mencoba membuka memori dengan maksud ingin mengetahui perkembangan, malah membuka luka lama. Anak-anak, harta dan lainnya ternyata   juga menggugah kenangan yang pahit dan kesedihan

Namun sikap sederhana dan pasrahnya kukagumi. Aku memuji dalam hati hanya dengan bersikap seperti itulah, kebesaran jiwa, kesederhanaan membuat hidupnya lebih  jernih, meskipun fisiknya tidak.

(Refleksi)

 

 

Negaraku gonjang  ganjing 2008

Kembali inilah Indonesiaku, tanahnya subur, kaya raya bak untaian mutiara mutu manikam di khatulistiwa. Tapi apa hendak dikata, jerit tangis si miskin, harga yang membubung, pejabat dan pakar saling menyalahkan. Upaya pembangunan dan penghantaran ke kemiskinan seperti berlomba. Entah seberapa lama lagi pendewasaan demokrasi ini harus berlangsung.

Korupsi antara yang terungkap dan yang belum tidak sebanding, manipulasi dan penimbunan BBM setelah minyak goreng, terigu, beras, logging, pembalakan berturut-turut. Entah apalagi yang esok akan dipermainkan harganya.

Penjara bukan lagi tempat membuat orang jera berbuat jahat, tetapi lahan korupsi, suap-menyuap perdagangan narkoba, dan diklat para penjahat. Bahkan tempat aman mengendalikan mafia kejahatan. Itu saja dikeluhkan tidak muat menampung penjahat yang dapat di bekuk. Mahkamah dan pengadilan dipenuhi kasus suap tingkat tinggi penggunaan anggaran yang  boros. DPR tempat wakil-wakil rakyat justru menjadi tempat para negosiator ubah fungsi lahan dan tugas legislasi lainnya.  

Aku belum bilang bahwa pendidikan di negeri ini sangat memprihatinnkan. Instansi kepolisian dan tentara tempat pengangkatan dan promosi anggota penuh suap.

Aku belum bilang mental anak negeri ini yang lebih suka memalak dari pada kerja keras, lebih suka ngamen dari pada kerja produktif

Aku belum bilang pemimpin-pemimpin yang begitu tega menghisap darah rakyat melalui wewenang dan jabatannya. Pejabat-pejabat yang bersaing dengan upeti kepada atasannya untuk mengamankan kursinya.

Aku juga belum bilang tentang hilangnya pemimpin yang mempunyai visi dan misi untuk mengentaskan negeri dari situasi semacam ini, pemimpin yang bersih tetapi punya strategi yang tepat, pemimpin juga orator sekaligus mampu menjadi teladan serta penggerak yang mampu membangunkan rakyat untuk bersatu padu mengubah dan membangun mental, sehingga kuat keinginann untuk kerja keras, kerja produktif, efisien, serta tidak bernyali untuk berbuat onar, kkn, suap dan manipulasi.

Aku memang belum bilang, terlalu panjang

 

( refleksi )

 

Gerah

Musim penghujan  mulai tiba. Cuaca awal muim hujan terutama  ketika hujan tidak atau belum turun biasanya membuat badan terasa panas. Orang Jawa  biasa menamakan gerah. Gerah artinya suatu kondisi tubuh menghadapi cuaca diluar tubuh yang lebih tinggi sehingga tubuh mengeluarkan keringat. Rasanya tubuh yang gerah jelas tidak nyaman. Reaksi orang yang kegerahan adalah dengan  berkipas, mencari udara mengalir lewat ventilasi ruangan terutama yang tidak ber-AC, atau mengendorkan kerah dan kancing bajunya.

Dalam pengertian umum gerah adalah kondisi seseorang yang merasa tidak nyaman oleh karena pengaruh dari luar. Biasanya pernyataan, pertanyaan ataupun kritik dari seseorang dapat membuat seseorang menjadi gerah. Belum lama ini saya dan teman-teman di Pengawas Sekolah mendapat kritik dari seorang guru bahwa kinerja Pengawas belum optimal. Kritik itupun ditanggapi oleh beberapa teman bermacam-macam. Diantaranya ada yang merasa gerah, bahkan beberapa diataranya menanggapi secara emosional.  Apalagi ketika kritik itu juga disampaikan didepan Kadinas. Siapa si yang suka dikritik didepan  bos, bahkan sempat  juga dimuat disalah satu Koran lokal.

Tentu saja perasaan gerah semacam itu sah-sah saja. Dan yang mengkritik juga sah-sah saja.

Saya sendiri si, pada mulanya kaget, tapi setelah dipikir sambil tersenyum akhirnya pikiran dan emosi saya bisa netral. Hidup ini akan jadi jauh lebih menderita kalau kita terlalu serius. Sederhana saja, ….. siapa sih yang sudah optimal ? Daalam bidang pendidikan, Guru ….. juga belum optimal, Kepala apa, kepaala mana  yang sudah optimal ?  Lurah, Camat, bupati, gubernur, menteri  sampai presidenpun belum optimal, … yang optimal kan  hanya Sang Pencipta.  Ya itu sih pikiran saya saja yang sederhana, sungkan ribed.

Lagi pula  justru dengan kritik itu berarti kinerja kita diperhatikan. Saya pikir ini justru kesempatan yang sangat baik untuk mengemukakan bahwa belum optimalnya justru salah satunya karena kita tidak dipikirkan sarana-prasarananya. Contoh gampang transportnya  bahkan tunjangannya sekalipun kalah dengan guru yang sertifikasi. He..he ngiri, ………..nih.  Bayangkan untuk mencapai  tempat  tugas jaraknya ada 7 s.d 34 km ini saya. Ada teman yang lebih jauh lagi lho. Otomatis diperlukan sarana transportasi yang layak.

Saya sering bercanda dengan teman-teman, kalau para pejabat lain ada yang sering menggunakan kendaraan dinas untuk kepentingan pribadi ……. eh kita justru sebaliknya menyalahgunakan kendaran pribadi untuk kepentingan dinas. Cuman ya …… itu resikonya kalau kendaraan mereka rusak ada anggaran pemeliharaan, kita tak ada alias merogoh kocek sendiri. Ini baru bicara salah satu faktor, belum berbicara kendala yang  lain lho. Misalnya  faktor pengembangan SDM,  faktor kebijakan dinas, sikap dan respons guru dan Kepala Sekolah

Pelaksanaa pendidikan yang kita garap bersama masih dalam bentuk pencarian format. Semua perlu bahu membahu membangun pendidika yang lebih baik bagi masa depan bangsa ini. Jadi yang ngritik sah-sah saja, yang dikritik ya sah juga. Semua kita perlu kritik, kok. Asal saja jika kita ngritik jangan kita menganggap kita sendiri yang sudah optimal. Lebih dari itu  …  saya yang senyum-senyum dengan kritik itu…. tentu  sah juga. Terima kasih.      Salam buat semua. Bila berkenan ikut saya tersenyum, ….. silahkan.

(refleksi)

Musim penghujan  mulai tiba. Cuaca awal muim hujan terutama  ketika hujan tidak atau belum turun biasanya membuat badan terasa panas. Orang Jawa  biasa menamakan gerah. Gerah artinya suatu kondisi tubuh menghadapi cuaca diluar tubuh yang lebih tinggi sehingga tubuh mengeluarkan keringat. Rasanya tubuh yang gerah jelas tidak nyaman. Reaksi orang yang kegerahan adalah dengan  berkipas, mencari udara mengalir lewat ventilasi ruangan terutama yang tidak ber-AC, atau mengendorkan kerah dan kancing bajunya.

Dalam pengertian umum gerah adalah kondisi seseorang yang merasa tidak nyaman oleh karena pengaruh dari luar. Biasanya pernyataan, pertanyaan ataupun kritik dari seseorang dapat membuat seseorang menjadi gerah. Belum lama ini saya dan teman-teman di Pengawas Sekolah mendapat kritik dari seorang guru bahwa kinerja Pengawas belum optimal. Kritik itupun ditanggapi oleh beberapa teman bermacam-macam. Diantaranya ada yang merasa gerah, bahkan beberapa diataranya menanggapi secara emosional.  Apalagi ketika kritik itu juga disampaikan didepan Kadinas. Siapa si yang suka dikritik didepan  bos, bahkan sempat  juga dimuat disalah satu Koran lokal.

Tentu saja perasaan gerah semacam itu sah-sah saja. Dan yang mengkritik juga sah-sah saja.

Saya sendiri si, pada mulanya kaget, tapi setelah dipikir sambil tersenyum akhirnya pikiran dan emosi saya bisa netral. Hidup ini akan jadi jauh lebih menderita kalau kita terlalu serius. Sederhana saja, ….. siapa sih yang sudah optimal ? Daalam bidang pendidikan, Guru ….. juga belum optimal, Kepala apa, kepaala mana  yang sudah optimal ?  Lurah, Camat, bupati, gubernur, menteri  sampai presidenpun belum optimal, … yang optimal kan  hanya Sang Pencipta.  Ya itu sih pikiran saya saja yang sederhana, sungkan ribed.

Lagi pula  justru dengan kritik itu berarti kinerja kita diperhatikan. Saya pikir ini justru kesempatan yang sangat baik untuk mengemukakan bahwa belum optimalnya justru salah satunya karena kita tidak dipikirkan sarana-prasarananya. Contoh gampang transportnya  bahkan tunjangannya sekalipun kalah dengan guru yang sertifikasi. He..he ngiri, ………..nih.  Bayangkan untuk mencapai  tempat  tugas jaraknya ada 7 s.d 34 km ini saya. Ada teman yang lebih jauh lagi lho. Otomatis diperlukan sarana transportasi yang layak.

Saya sering bercanda dengan teman-teman, kalau para pejabat lain ada yang sering menggunakan kendaraan dinas untuk kepentingan pribadi ……. eh kita justru sebaliknya menyalahgunakan kendaran pribadi untuk kepentingan dinas. Cuman ya …… itu resikonya kalau kendaraan mereka rusak ada anggaran pemeliharaan, kita tak ada alias merogoh kocek sendiri. Ini baru bicara salah satu faktor, belum berbicara kendala yang  lain lho. Misalnya  faktor pengembangan SDM,  faktor kebijakan dinas, sikap dan respons guru dan Kepala Sekolah

Pelaksanaa pendidikan yang kita garap bersama masih dalam bentuk pencarian format. Semua perlu bahu membahu membangun pendidika yang lebih baik bagi masa depan bangsa ini. Jadi yang ngritik sah-sah saja, yang dikritik ya sah juga. Semua kita perlu kritik, kok. Asal saja jika kita ngritik jangan kita menganggap kita sendiri yang sudah optimal. Lebih dari itu  …  saya yang senyum-senyum dengan kritik itu…. tentu  sah juga. Terima kasih.      Salam buat semua. Bila berkenan ikut saya tersenyum, ….. silahkan.

(refleksi) 

Gerah

Musim penghujan  mulai tiba. Cuaca awal musim hujan terutama  ketika hujan tidak atau belum turun biasanya membuat badan terasa panas. Orang Jawa  biasa menamakan gerah. Gerah artinya suatu kondisi tubuh menghadapi cuaca diluar tubuh yang lebih tinggi sehingga tubuh mengeluarkan keringat. Rasanya tubuh yang gerah jelas tidak nyaman. Reaksi orang yang kegerahan adalah dengan  berkipas, mencari udara mengalir lewat ventilasi ruangan terutama yang tidak ber-AC, atau mengendorkan kerah dan kancing bajunya.

Dalam pengertian umum gerah adalah kondisi seseorang yang merasa tidak nyaman oleh karena pengaruh dari luar. Biasanya pernyataan, pertanyaan ataupun kritik dari seseorang dapat membuat seseorang menjadi gerah. Belum lama ini saya dan teman-teman di Pengawas Sekolah mendapat kritik dari seorang guru bahwa kinerja Pengawas belum optimal. Kritik itupun ditanggapi oleh beberapa teman bermacam-macam. Diantaranya ada yang merasa gerah, bahkan beberapa diataranya menanggapi secara emosional.  Apalagi ketika kritik itu juga disampaikan didepan Kadinas. Siapa si yang suka dikritik didepan  bos, bahkan sempat  juga dimuat disalah satu Koran lokal.

Tentu saja perasaan gerah semacam itu sah-sah saja. Dan yang mengkritik juga sah-sah saja.

Saya sendiri si, pada mulanya kaget, tapi setelah dipikir sambil tersenyum akhirnya pikiran dan emosi saya bisa netral. Hidup ini akan jadi jauh lebih menderita kalau kita terlalu serius. Sederhana saja, ….. siapa sih yang sudah optimal ? Daalam bidang pendidikan, Guru ….. juga belum optimal, Kepala apa, kepaala mana  yang sudah optimal ?  Lurah, Camat, bupati, gubernur, menteri  sampai presidenpun belum optimal, … yang optimal kan  hanya Sang Pencipta.  Ya itu sih pikiran saya saja yang sederhana, sungkan ribed.

Lagi pula  justru dengan kritik itu berarti kinerja kita diperhatikan. Saya pikir ini justru kesempatan yang sangat baik untuk mengemukakan bahwa belum optimalnya justru salah satunya karena kita tidak dipikirkan sarana-prasarananya. Contoh gampang transportnya  bahkan tunjangannya sekalipun kalah dengan guru yang sertifikasi. He..he ngiri, ………..nih.  Bayangkan untuk mencapai  tempat  tugas jaraknya ada 7 s.d 34 km ini saya. Ada teman yang lebih jauh lagi lho. Otomatis diperlukan sarana transportasi yang layak.

Saya sering bercanda dengan teman-teman, kalau para pejabat lain ada yang sering menggunakan kendaraan dinas untuk kepentingan pribadi ……. eh kita justru sebaliknya menyalahgunakan kendaran pribadi untuk kepentingan dinas. Cuman ya …… itu resikonya kalau kendaraan mereka rusak ada anggaran pemeliharaan, kita tak ada alias merogoh kocek sendiri. Ini baru bicara salah satu faktor, belum berbicara kendala yang  lain lho. Misalnya  faktor pengembangan SDM,  faktor kebijakan dinas, sikap dan respons guru dan Kepala Sekolah

Pelaksanaa pendidikan yang kita garap bersama masih dalam bentuk pencarian format. Semua perlu bahu membahu membangun pendidika yang lebih baik bagi masa depan bangsa ini. Jadi yang ngritik sah-sah saja, yang dikritik ya sah juga. Semua kita perlu kritik, kok. Asal saja jika kita ngritik jangan kita menganggap kita sendiri yang sudah optimal. Lebih dari itu  …  saya yang senyum-senyum dengan kritik itu…. tentu  sah juga. Terima kasih.      Salam buat semua. Bila berkenan ikut saya tersenyum, ….. silahkan.

 

(refleksi)

 

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: