Mutiara

(satu) 

Benih 

 

 

 

Suatu ketika,
ada
sebuah
pohon yang rindang.
Dibawahnya,
tampak
dua orang
yang
sedang beristirahat.
Rupanya,
ada
seorang pedagang
bersama anaknya
yang
berteduh disana.
Tampaknya
mereka kelelahan
sehabis
berdagang
di kota.
dengan
menggelar
sehelai tikar,
duduklah
mereka
dibawah pohon
yang besar  itu.

Angin semilir
membuat
sang pedagang
mengantuk.
Namun,
tidak demikian
dengan
anaknya
yang
masih belia.
“Ayah,
aku
ingin bertanya…”
terdengar suara
yang
mengusik
ambang sadar
si pedagang. 

“Kapan
aku
besar,
Ayah?
Kapan
aku
bisa
kuat
seperti Ayah,
dan
bisa
membawa
dagangan
kita
ke kota?”

“Sepertinya”,
lanjut
sang bocah,
“Aku
tak akan bisa
besar.
Tubuhku
ramping
seperti Ibu,
berbeda
dengan
Ayah
yang tegap
dan
berbadan besar.
Kupikir,
aku
tak akan
sanggup
memikul
dagangan kita
jika
aku
tetap
seperti
ini.” 
Jari tangannya
tampak
mengores-gores
sesuatu
di
atas tanah.
Lalu,
ia
kembali
melanjutkan,
“Bilakah
aku
bisa
punya
tubuh besar

sepertimu,
Ayah?

Sang Ayah
yang
awalnya mengantuk,
menjadi  
terkesiap.
Diambilnya
sebuah
benih
di atas
tanah
yang
sebelumnya
di kais-kais
oleh anaknya.
Diangkatnya
benih
itu
dengan
ujung jari telunjuk.
Benda itu
terlihat
seperti
kacang
yang kecil,
dengan ukuran
yang
tak
sebanding
dengan
tangan
pedagang
yang besar-besar.
Kemudian,
iapun
mulai berbicara.

“Nak,
jangan pernah
malu
dengan
tubuhmu
yang kecil.
Pandanglah
pohon besar
tempat
kita
berteduh ini.
Tahukah
kamu,
batangnya
yang kokoh
ini,
dulu
berasal
dari benih
yang
sekecil ini.
Dahan,
ranting
dan daunnya,
juga
berasal
dari benih
yang
Ayah
pegang ini.
Akar-akarnya
yang
tampak menonjol,
juga
dari
benih ini.
Dan kalau
kamu
menggali
tanah ini,
ketahuilah,
sulur-sulur
akarnya 
yang menerobos tanah,
juga
berasal
dari
tempat yang sama.

Diperhatikannya
wajah
sang anak
yang
tampak tertegun.
“Ketahuilah
Nak,
benih ini
menyimpan segalanya.
Benih
ini
menyimpan
batang yang kokoh,
dahan yang rindang,
daun yang lebar,
juga
akar-akar
yang kuat.
Dan
untuk
menjadi
sebesar
pohon ini,
ia hanya
membutuhkan
angin,
air,
dan
cahaya matahari
yang cukup.
Namun
jangan lupakan
waktu
yang membuatnya
terus
bertumbuh.
Pada
mereka
semualah
benih ini
berterima kasih,
karena
telah melatihnya
menjadi
mahluk
yang
sabar.”
“Suatu
saat nanti,
kamu
akan besar
Nak.
Jangan pernah
takut
untuk berharap
menjadi besar,
karena
bisa jadi,
itu
hanya
butuh
ketekunan
dan
kesabaran.”

Terlihat
senyuman
di
wajah mereka.
Lalu
keduanya
merebahkan diri,
meluruskan
pandangan
ke
langit lepas,
membayangkan
berjuta harapan
dan
impian dalam benak.

Tak lama
berselang,
keduanyapun
terlelap
dalam tidur,
melepaskan lelah
mereka
setelah
seharian bekerja.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: