Oleh: subagjo | Februari 27, 2009

PENGARUH BURUK TELEVISI

Televisi kini telah hadir sebagai sahabat yang mengunjungi anak-anak. Bahkan di lingkungan keluarga yang para orangtuanya sibuk bekerja diluar rumah, televisi berfungsi ganda yaitu sebagai pengganti orangtua dalam mendampingi keseharian anak-anak… Ironisnya ditengah-tengah peran vitalnya selaku media hiburan kelarga dunia pertelevisian kini tengah mengalami disorientasi dalam ikut mendidik para penontonnya. Ditengah fungsi televise sebagai media komunikasi, informasi dan pendidikan, muncul persoalan karena persepsi, perspektif dan kepentingan yang berbeda.

Dalam bisnis ada prinsip untuk memperoleh keuntungan yang setinggi-tingginya dengan mengeluarkan biaya yang serendah-rendahnya. Atau lebih kongkritnya berkaitan dengan anggaran untuk iklan, bagaimana menekan biaya produksi serendah-rendahnya dengan iklan yang secara ofensif. Sesungguhnya prinsip tersebut merupakan sesuatu yang wajar. Namun ketika demo bisnis telah berkembang menjadi ekploitasi berlebihan, asas keadilan menjadi terusik. Sisi kepentingan lain publik terabaikan, dan itu yang kemudian menjadi persoalan, mengingat tingkat penetrasi media televisi yang tinggi.

Media televisi sebagai milik publik sudah sewajarnya jika dituntut harus menghormati hak pihak atau individu lain yang juga berada di wilayah itu. Remaja dan kaum ibu merupakan kelompok yang sangat rentan dan sensitif terhadap pengaruh televisi. Sementara upaya ketahanan dari kelompok itu relatif rendah. Ini bukan berarti bahwa kelompok di luar itu tidak berpengaruh. Dalam konteks struktur dan budaya masyarakat mayoritas Indonesia, penetrasi media televisi pada kelompok usia yang kedua ini tidak sekeras untuk kelompok terdahulu.

Anak-anak adalah korban pertama, tidak pandang apakah kelompok masyarakat kaya ataupun miskin. Banyak keluarga yang telah mempercayai televisi sebagai baby-sitter. Dan anak-anakpun cenderung diam asyik menyimak acara televisi meski ditinggal sendirian. Berbagai penelitian menyebutkan, menyerahkan anak-anak pada televisi dalam usia dini sangat berbahaya baik secara fisik maupun psikis.
Sebuah catatan akademi dokter di AS menyatakan anak usia 2 tahun yang dibiarkan orangtuanya menonton televisi akan menyerap pengaruh merugikan. Terutama pada perkembangan otak, emosi, social dan kemampuan kognitif anak. Selanjutnya menyebabkan proses wiring yaitu proses aktif penyambungan sel-sel syaraf dalam otak menjadi tidak sempurna.

Konon ketika terlahir seorang bayi manusia mempunyai + 10 milyar sel dalam otaknya, dimana sel-sel itu belum terasosiasi. Proses terasosiasinya sel-sel tersebut (wiring) dipengaruhi oleh pengalaman simulasi seperti gerakan, nyanyian, obrolan, serta gizi yang baik. Sementara itu anak yang berada didepan televisi diindikasikan tidak akan memiliki pengalaman-pengalaman empirik yang benar-benar dibutuhkan untuk membantu terjadinya proses wiring. Oleh karena televisi ternyata hanya memberi pengalamaan virtual. Pengalaman virtual dimana dimunculkan dengan cara yang tidak wajar dan ditambah pergerakan yang kadang-kadang cepat sekali, sehingga sebenarnya tidak relevan dengan kemampuan serta proses belajar anak.

Gambar-gambar dalam media televisi terdiri atas potongan-potongan gambar yang bergerak dan berubah cepat, zoom-out dan zoom-in yang intensif dengan kilas lampu ( flash ) yang sangat cepat, sistim pemunculannya yang sebenarnyalah merupakan ”kenyataan ” yang tidak rasional, kontinyu dan linier”. Pada tahapan ini dapat membuat pola kerja otak anak dipaksa dan tereksploitasi. Dunia virtual televisi melalui loncatan waktunya juga akan mengganggu kemampuan konsentrasi anak.
Dengan tayangan virtual seprti itu, pada kelompok anak yang lebih besar akan berakibat kelambanan berbicara reaktif-kreatif-kritis, karena aktivitas menonton televisi tidak menggugah anak untuk berpikir. Hal ini disebabkan oleh karena apa yang ditayangkan televisi ”sudah lengkap” dengan gambar dan suaranya. Berbeda dengan radio, seorang anak yang mendengarkan suara kambing di radio misalnya akan berpikir, berfantasi bentuk, ragam dan bahkan tipe kambingnya. Sedangkan di televisi hal itu tidak terjadi karena sudah disodori sosok kambingnya sekaligus.

Menonton televisi bagi anak-anak juga merupakan aktivitas pasif yang dapat merugikan proses assosiasif sel-sel. Apalagi jika yang ditontonnya bukan acara yang diperuntukan penonton kelompok seusianya. Semakin banyak tayangan yang bersifat kekerasan, bias gender dapat mendorong anak untuk memiliki persepsi yang sama dengan yang dipresentasikan. Jangan lupa pula, bahwa beberapa tayangan kartun yang mestinya disajikan khusus untuk anak-anak, ternyata tidak sedikit yang kental dengan adegan kekerasan dan seksisme. Lihat saja serial Tom dan Jerry sebagai misal. Belum lagi tayangan empat matanya tukul, wira-wiri dan tawa sutra, untuk hiburan memang menyegarkan, tetapi untuk pendidikan tidak otomatis seperti itu.

Oleh karena itu sebenarnya tidak perlu kaget jika ternyata beberapa penelitian juga menyimpulkan bahwa semakin banyak anak mengkonsumsi televisi, semakin sama nilai-nilai yang dianutnya dengan tayangan-tayangan yang dinikmatinya. Anak yang sering menonton tayangan keras cenderung akan mempunyai perilaku agresif. Bahkan anak yang sering nonton tayangan seksisme akan menjadi sangat membedakan peran dan perilaku antara perempuan dan laki-laki.

Televisi memang menawarkan serangkaian informasi dan hiburan yang segar, namun kita perlu hati-hati oleh karena tidak semuanya bermanfaat. Karena itu perlu ada batasan anak-anak dalam menonton televisi. Bagi anak remaja semestinya ada pendampingan saat menonton televisi dan jangan sekali-kali mengfungsikan televisi sebagai baby-sitter.
Pada kelompok usia remaja, meski proses penangkapan abstraksi terhadap tayangan televisi lebih baik, namun harus diingat bahwa situasi remaja secara psikologis masih dalam tahap perkembangan yang terkadang memasuki tahapan kritis. Ingat situasi pubertas menurut psikolog William Stern adalah masa strum und drunk (= masa badai dan dorongan ). Demi berbagai perhitungan bisnis media televisi justru memanfaatkan situasi ini tanpa memperhatikan sisi paedagogisnya.

Pengaruh pada kaum ibu
Kelompok perempuan dewasa ini menjadi sasaran paling strategis bagi media televisi. Dalam konsep keluarga di Indonesia kaum ibu adalah kalangan yang paling memiliki ketergantungan pada media televisi. Lihat saja acara-acara pada jam ibu rumahtangga ada di rumah. Dari ragam dan jenis iklan-iklan yang ditayangkan saja sudah bisa diketahui siapa yang menjadi sasarannya. Padahal sering ibu adalah pemgenag kunci ekonomi keluarga atau manajer keungan.jika ia terbujuk, selebihnya tinggal menunggu efek domino yang ditimbulkannya.
Pengaruh di kalangan ibu adalah menjadukannya konsumen, pelanggan yang ditawarkan. Kaum ibu bisa menjadi orang yang kehilangan jatidirinya dan rela diombang-ambingkan oleh situasi disekitarnya.

Pengaruh secara umum
Ada 2 tren yang tercepat dari kelompok masyarakat. Masing-masing masyarakat yang mampu memenuhi keterbujukannya dan yang tidak memiliki kemampuan memenuhi keterbujukannya. Yang pertama asyik masuk menjadi masyarakat konsumtif dan bagi kelompok lainnya mencari padanan dalam dunia illusi dan mimpi untuk memenuhi pemuasan psikologis menjadi eskapistik, tidak rasional dan tidak realistis. Semakin tumpul daya juangnya dan semakin majal kemandiriannya. Selebihnya kehilangaan daya kritis dan karakter pribadinya.
Terror media televisi ini pada gilirannya akan membuat masyarakat kita menglami penumpulan, pendangkalan dan penyederhanaan. Artinya pemahaman perkara kejahatan, kriminlitas, kekerasan dan seksualitas juga makin dangkal dan makin sederhana. Tidak ada tabiat argumentaitf karena memang tidak dibangun. Diskusi-diskusi tentang hantu gentayangan, penampakan, anak memperkosa ibu kandung, mutilasi atau penolakan hasil pilkada berangkat dari apa yang disaksikan melalui media televisi.

Masyarakat konsumtif
Masyarakat konsumtif adalah jenis masyarakat yang hanya berposisi sebagai pembeli bukan pembuat, konsumen bukan produsen. Jikapun ada kreativitas adalah memilih dan menawar. Dengan kata lain hanya menjadi obyek dan target sasaran. Dia ditentukan bukan menentukan.. kaum ibu, anak dan remaja adalah tiga sasarna prioritas bagi masya untuk menjadi konsumtif. Bahaya terbesar adalah munculnya masyarakat yang tidak memiliki karakter kemandirian. Masyarakat akan terseret dalam hukum pergantian produk, gaya, tanda dan prestise.
Dengan buruknya sistim pendidikan, tidak berkembangnya iklim demokrasi, masyarakat konsumtif menjadi bulan-bulanan kehidupan. Ia hanya sibuk dalam urusan memenuhi hasrat kebutuhan konsumsi tidak peduli dengan aktualisasi dirinya. Masyarakat seperti ini adalah masyarakat yang tidak memiliki ketahanan budaya, maaasyarakat tanpa identitas, masyarakat komunal dan seragam. Ia tidak mengenali lingkungannya karena hidupnya berpusat pada dirinya, memburu kesenangan pribadi. Terjadi pergeseran nilai, norma dan ukuran karena berbagai kenyataan sosial masyarakat tersebut telah direduksi.

Kesimpulan.
Berdasar uraian diatas berikut beberapa hal yang perlu mendapat pertimbangan bagi pendidikan anak dan kelompok yang rentan terhadap pengaruh buruk televisi :
Pertama, proses identifikasi yang memenuhi seluruh gerak dan impulsi remaja justru dijinakan dengan menciptakan kondisi ketergantungan, sehingga remaja dipaksa bukan menjadi dirinya sendiri, melainkan menjadi tergiring menurut kepentingan pihak tertentu.
Kedua, menjadikan remaja berpribadi kerdil, oleh karena pengalaman virtualnya tidak dilengkapidengan pengalaman riil-empirik untuk melakukan empati sosial
Ketiga, yang merupakan pengaruh terbesar yaitu menjadikan remaja menjadi pribadi-pribadi yang pasif, tidak memiliki keberanian berekspresi, karena media televisi telah memenuhi semua kebutuhan impulsifnya secara virtual. Bandingkan saja remaja yang berjam-jam bisa menjadi ekspresif dan jagoan, baik dalam lomba formula-1 atau kopetisi Liga Italia, tetapi sama sekali menjadi remaja yang jinak bahkan mungkin sekali gagal di arena yang riil.
Keempat, akibat kenyataan sosial yang dikompres dan direduksi itu media televisi telah kehilangan nilai-nilai yang esensial. Menjadikan remaja sangat tergantung dan kehilangan daya imajinasinya. Apa yang diangankan bukanlah imajinasi dan fantasi dalam pengertian yang sebenarnya, namun lebih cenderung pada memperolehnya secara mudah, sebagaimana disaksikan secara visual. Akibatnya mereka tidak berkesempatan mempelajari kehidupan yang sebenarnya, selain melihat yang artifisial saja. Ketika didapati kenyataan hidup lebih keras dari itu, remaja kita akan lebih mudah menjadi patah semangat, putus asa dan kecewa.
Kelima, acara-acara kuis, ketik reg spasi …. maupun games dan tayangan semacam itu telah menempatkan remaja sebagai obyek dari permainan-permainan itu. Televisi tidak lagi secara utuh memberikan ruang pilihan dirinya sebagai subyek. Remaja tak lebih hanya tertarik pada persoalan-persoalan dirinya dan masukan dalam perilaku-perilaku sosialnya.
Keenam, dalam pola pembentukan tipe idealis, media televisi telah menjadi pelaku atau sekedar agen perantara bagi munculnya konsep-konsep bias tertentu. Antara lain perempuan yang cantik adalah perempuan yang berkulit putih, berambut lurus dan panjang dan sejenisnya. Jika tidak dikritisi dalam memaknainya remaja juga akan cenderung mengalami eating-disorder (kelainan pola makan) misalnya mengkonsumsi suplemen makanan yang sebenarnya tidak perlu namun karena diiklankan di media televisi.
Ironis memang ditengah-tengah peran vitalnya selaku media hiburan kelarga dunia pertelevisian kini tengah mengalami disorientasi dalam ikut mendidik para penontonnya. Dunia pertelevisian kini mengancam melalui unsur-unsur vulgarisme, kekerasan, pornografi yang hampir-hampir menjadi sajian rutin.
Semoga bermanfaat.

Sumber : Wirodono Sunardian, Matikan TV-Mu !, Teror Media Televisi di Indonesia
Baca tulisan lainnya disini


Responses

  1. […] PTK Desain Multi Media Pembelajaran Sudahkah Anda Mempunyai NUPTK Mengenali Kecerdasan Anak Pengaruh buruk televisi TI di SekolahMembedah Pendidikan […]


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: