Oleh: subagjo | Februari 16, 2009

KELEMAHAN KTI GURU/PENGAWAS

Di samping kriteria umum, menurut Suhardjono ada kriteria khusus untuk menilai KTI pada kegiatan pengembangan profesi guru/pengawas sekolah yaitu kriteria APIK. Apa saja yang dimaksud dengan APIK. Berikut uraiannya : ….
Asli
KTI harus merupakan karya asli penyusunnya, bukan merupakan plagiat, jiplakan, atau disusun dengan niat dan prosedur yang tidak jujur. Tujuan utama kegiatan pengembangan profesi guru/pengawas sekolah, dengan demikian tentu TIDAK untuk meningkatkan ketidakjujuran. Karena itu syarat utama KTI yang memenuhi syarat untuk mendapat angka kredit adalah kejujuran.
KTI yang tidak “asli “ dapat terlihat antara lain melalui,
 terdapat bagian-bagian tulisan, atau petunjuk lain yang menunjukkan bahwa KTI itu dirubah di sana-sini dan digunakan sebagai KTI nya (seperti misalnya: bentuk ketikan yang tidak sama, tempelan nama, terdapat petunjuk adanya lokasi dan subyek yang tidak konsisten, terdapat tanggal pembuatan yang tidak sesuai, terdapat berbagai data yang tidak konsisten, tidak akurat
 waktu pelaksanaan pembuatan KTI yang kurang masuk akal (misalnya pembuatan KTI yang terlalu banyak dalam kurun waktu tertentu)
 adanya kesamaan yang sangat mencolok pada isi, format, gaya penulisan dengan KTI yang lain, baik yang dibuat oleh yang bersangkutan atau dengan KTI lain dari daerah tertentu (umumnya dengan sampul yang sama, kata pengantar yang sama, teori yang sama, daftar pustaka yang sama, yang berbeda hanya pada subyek mata pelajaran, dan data yang tampak sekedarnya)
 adanya keTIDAKsamaan yang sangat mencolok pada isi, format, gaya penulisan di antara KTI yang dibuat oleh penulis yang sama
 KTI yang berisi uraian hal-hal yang terlalu umum, yang tidak berkaitan dengan kegiatan nyata yangdilakukan oleh ybs dalam kegiatan pengembangan profesinya. Karena KTI semacam itulah yang paling mudah ditiru, dipakai kembali oleh orang lain dengan cara mengganti nama penulisnya.
Pada KTI terdapat indikasi yang menunjukkan bahwa KTI tersebut tidak asli, seperti data yang tidak konsisten, lokasi, data yang dipalsukan, lampiran yang tidak sesuai, dan lain-lain. Juga terdapat indikasi yang menunjukkan KTI ini diragukan keasliannya, yaitu adanya berbagai data yang tidak konsisten
Bila KTI tersebut berupa laporan penelitian maka sistematikanya paling tidak memuat : (Bab I) Pendahuluan yang menjelaskan tentang Latar Belakang Masalah, Perumusan Masalah dan Cara Pemecahan Masalah melalui rencana tindakan yang akan dilakukan, Tujuan dan Kemanfaatan Hasil Penelitian; (Bab II) Kajian / Tinjauan Pustaka yang berisi uraian tentang kajian teori dan pustaka; (Bab III) Metode Penelitian yang menjelaskan tentang prosedur penelitian; (Bab IV) Hasil penelitian; dan (Bab V) Simpulan dan Saran-Saran.
Laporan penelitian harus pula melampirkan (a) semua instrumen yang digunakan dalam penelitian, terutama lembar pengamatan, b) contoh-contoh hasil kerja dalam pengisian/ pengerjaan instrumen, (c) dokumen pelaksanaan penelitian yang lain seperti foto-foto kegiatan, daftar hadir, dan lain-lain.

Perlu
Permasalahan yang dikaji harus diperlukan dan mempunyai manfaat. Sehingga apa yang ditulis bukan permasalahan yang mengada-ada, atau dengan kata lain memasalahkan sesuatu yang tidak perlu untuk dipermasalahkan.
Contoh dari KTI yang tidak perlu
 masalah yang dikaji terlalu luas, (misalnya KTI berjudul (a) Kemampuan profesional guru/pengawas dalam meningkatkan mutu pembelajaran, (b) Peranan guru/pengawas sekolah dalam melestarikan Pancasila, (c) Teknologi Informasi dalam dunia pendidikan, dan lain-lain).
 tidak menunjukan adanya kegiatan nyata penulis dalam peningkatan / pengembangan profesinya, permasalahan yang ditulis, sangat mirip dengan KTI yang telah ada sebelumnya, telah jelas jawabannya, kurang jelas manfaatnya dan merupakan hal mengulang-ulang (misalnya KTI yang berjudul: (a) Hubungan status orangtua siswa dengan prestasi belajar, (b) Korelasi nilai IPA dengan nilai Pendidikan Pancasila, dan (c) Hubungan antara Motivasi Berprestasi dengan nilai Bahasa Indonesia, dan lain-lain.)
 berisi hal-hal di luar tupoksi pengawas misalnya (a) rela berkorban untuk tanah air, (b) sejarah kerajaan Sunda Melinda, (c) Agar PEMILU berjalan Jurdil, (d) Teknik memimpin rapat, dan lain-lain

Banyak KTI dinyatakan sebagai tinjauan / gagasan ilmiah, namun :
 hanya berupa diskripsi atau paparan tentang hal yang terlalu luas/ terlalu umum
 tidak terkait dengan permasalahan yang ada di sekolah-sekolah bianaanya
 tidak ada hal yang berkaitan dengan kegiatan ybs sebagai pengawas sekolah

KTI belum memenuhi persyaratan, hal yang dipermasalahkan hanya berupa diskripsi atau paparan tentang hal yang terlalu luas/ terlalu umum, tidak terkait dengan permasalahan yang ada di sekolah-sekolah binaannya, serta tidak ada hal yang berkaitan dengan kegiatan ybs.
Bila KTI dimaksudkan sebagai tinjauan ilmiah tetap harus memasalahkan hal-hal yang berkaitan dengan tugas-tugasnya sebagai pengawas dengan menyertakan fakta-fakta masalah yang terjadi.

Contoh judul KTI yang tidak perlu:
(a) Dalam rangka HUT PGRI pengawas sekolah bertanggungjawab untuk meningkatkan mutu pendidikan Indonesia
(b) Peranan perpustakaan dalam meningkatkan prestasi belajar siswa
(c) Hubungan antara kondisi sosial ekonomi orangtua siswa dengan prestasi belajarnya.
Sistematika karya tulis ilmiah yang berupa tinjauan ilmiah paling tidak memuat :
1. Pendahuluan yang terdiri dari (a) latar belakang masalah, (b) rumusan masalah, (c) tujuan dan manfaat penulisan
2. Kajian teori yang berkaitan dengan permasalahan yang dikaji dan sajian fakta-fakta yang terkait dengan pelaksanaan tugas yang bersangkutan di sekolah-sekolah binaannya
3. Tinjauan atau ulasan tentang bagaimana memecahkan masalah atau mengurangi masalah yang berupa gagasan yang bersangkutan berdasar teori dan fakta yang ada.

Ilmiah
KTI yang tidak ilmiah antara lain ditandai dengan
 masalah yang dituliskan bukan masalah keilmuan dan tidak berkait dengan permasalahan tentang pengembangan profesi (tugas dan tanggung jawab) guru/pengawas sekolah yang spesifik dilakukannya pada lingkup dan daerah kerjanya.
 latar belakang masalah tidak jelas sehingga tidak dapat menunjukkan pentingnya hal yang dibahas dan hubungan masalah tersebut dengan upayanya untuk mengembangkan profesinya sebagai guru/pengawas sekolah (misalnya tidak ada fakta spesifik yang berkaitan dengan masalah kepengawas di sekolah atau di wilayah bidang tugasnya)
 rumusan masalah tidak jelas sehingga kurang dapat diketahui apa sebenarnya yang akan diungkapkan
 kebenarannya tidak terdukung oleh kebenaran teori, kebenaran fakta dan kebenaran analisisnya
 kesimpulan tidak/belum menjawab permasalahan yang diajukan
Berikut disajikan satu contoh KTI tidak ILMIAH

KTI berupa laporan penelitian, namun
 kebenarannya tidak terdukung oleh kebenaran teori, kebenaran fakta dan kebenaran analisisnya
 metode penelitian, sampling, data, analisis hasil yang tidak / kurang benar.

KTI dinyatakan sebagai laporan hasil penelitian, namun
(a) kebenarannya tidak terdukung oleh kebenaran teori, kebenaran fakta dan kebenaran analisisnya, dan
(b) metode penelitian, sampling, data, analisis hasil yang tidak / kurang benar.

KTI seyogyanya berfokus pada “laporan” kegiatan nyata yang bersangkutan. Misalnya berupa laporan penelitian tindakan kelas, atau buku, tinjauan ilmiah atau jenis KTI yang lain.

Konsisten
KTI harus disusun sesuai dengan kemampuan penyusunnya. Bila penulisnya seorang guru/pengawas sekolah, maka KTInya harus berada pada bidang tugas dan fungsi guru/pengawas sekolah. KTI yang tidak konsisten antara lain ditandai dengan
 tidak sesuai dengan tugas si penulis sebagai guru/pengawas sekolah
 tidak sesuai latar belakang keahlian atau tugas pokok penulisnya
KTI yang tidak KONSISTEN menunjuk masalah yang dikaji tidak sesuai dengan tugas penulis untuk mengembangkan profesinya sebagai guru/pengawas, masalah yang dikaji tidak sesuai latar belakang keahlian atau tugas pokok penulisnya

Semoga bermanfaat !
Baca tulisan lainnya disini


Responses

  1. terima kasih, atas ilmunya pak. saya sangat tertarik pada KTI, karena saya sedang menulis dan meneliti. masalahnya, (terutama di lingkungan saya) KTI sekarang masih dianggap sebagai syarat untuk naik jabatan dan bukan sebagai budaya atau solusi dalam mengatasi permasalahan siswa. tapi Alhamdulillah, saya diberi kesempatan seluas-luasnya oleh bapak (kepsek) untuk membuat KTI walaupun saya seorang honorer. tapi, karena kesibukkan bapak (kepsek), saya lebih sering mencoba menulis mandiri, tanpa pembimbingan.
    apakah ada pembimbingan untuk guru dalam menulis KTI pak? karena rata-rata yang ada hanya seminar saja. dan saya pernah ditawari oleh pengawas, tapi harus kolektif..
    namun demikian, tulisan bapak, sungguh sangat inspiratif untuk saya..matur nuwun pak..

    admin say :
    Di http://www.mediabelajarkita.blogspot.com ada contoh proposal dsb…. silahkan


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: