Oleh: subagjo | Juli 28, 2008

KISAH HIDUP

Tidak pernah kebijakan menghampiri diri kita jika kita baru mampu melihat keburukan orang lain. Sedangkan orang bijak memiliki kemampuan untuk melihat kebaikan dari setiap keburukan orang.

Konosuke Matsushita

Matsushita Electric Industrial Ltd (MEI) adalah penghuni urutan ke-59 deretan 500 Forbes Global 2007, dan masuk 20 teratas penjual semikonduktor dunia. Dengan pendapatan US$88,9 miliar (Rp801 triliun) dan 328.645 orang pegawai, tahun ini MEI memasuki era baru perjuangan tanpa akhir yang dimulai Konosuke Matsushita 89 tahun silam. Januari lalu, MEI mengumumkan perubahan nama korporat menjadi Panasonic Corporation per 1 Oktober nanti.

Ada kredo yang tidak bakal berubah pada MEI atau Panasonic, yaitu setiap pagi para karyawan mengucapkan Tujuh Prinsip: Kontribusi pada Masyarakat; Keadilan dan Kejujuran; Kerjasama dan Semangat Tim; Upaya tak Kenal Lelah untuk Perbaikan; Kesopanan dan Kerendahan Hati; Keluwesan; Bersyukur. Itulah nilai-nilai korporat yang dirumuskan mendiang Matsushita, sang pendiri.

Bagi orang Jepang yang terkenal sebagai pekerja keras, kredo itu bagian penting dalam meresapkan nilai-nilai korporat ke dalam jiwa setiap pekerja. Mereka percaya akan kedahsyatan magic power of repetition. Dengan pengucapan setiap hari oleh semua pekerja, nilai-nilai itu diharapkan terjelma menjadi kultur korporat.

Konosuke Matsushita lahir pada 27 November 1894 di desa pertanian Wasa, Provinsi (Perfektur) Wakayama. Dia sebetulnya putra seorang tuan tanah. Namun, harta keluarganya ludes karena keputusan investasi yang kurang cermat dari sang ayah dalam spekulasi perdagangan beras. Di usia sangat belia, sembilan tahun, Matsushita terpaksa dikirim bekerja ke Osaka, menjadi tukang reparasi sepeda.

Tak lama berselang, susul-menyusul kedua orangtuanya, lalu dua saudaranya, meninggal dunia. Hidup sebatang kara, di satu sisi, membuat jiwa kemandirian Matsushita tertempa. Tapi di sisi lain, tak ada pembimbing yang menularkan kepadanya ajaran atau nilai yang berlaku di masyarakat. Pada 1910, saat usianya 16 tahun, Matsushita pindah kerja menjadi asisten pemasangan kabel di Perusahaan Lampu Elektrik Osaka.

Itu tidak lazim, karena orang Jepang diajari untuk setia pada majikan seumur hidup. Matsushita hanya melihat pekerjaan barunya menjanjikan masa depan lebih baik. Dan, sikap independen itu kelak terbukti menjadi bekal pentingnya menjadi orang sukses.

Di tempat baru, Matsushita tidak bertahan lama. Menikah pada 1915 dengan Mumeno Iue, dia lalu mendirikan pabrik peralatan listrik Matsushita tiga tahun kemudian. Mula-mula, pabrik soket lampu listrik itu hanya diawaki tiga orang: dia sendiri, istri, dan adik iparnya, Toshio Iue. Tertatih-tatih dia membangun bisnis. Sempat nyaris tersungkur, hingga harus menggadaikan kimono sang istri untuk mendapatkan modal segar. “Itu tahun yang mencekam,” kenangnya.

Lebih murah

Pintu suksesnya mulai terbuka ketika dia mengembangkan soket yang bisa dijual 30% lebih murah dari produk kompetitor. Saat itu usianya 27 tahun. Bisnisnya terus berkembang. Pegawainya mencapai 10.000 orang ketika Perang Dunia II meletus.

Namun, dia segera terantuk lagi dengan penghalang. Sebagai pihak yang kalah perang, Jepang harus tunduk pada aturan Sekutu pimpinan Amerika Serikat, yang mengharuskan demokratisasi dan demiliterisasi Negeri Sakura. Bagian dari langkah itu adalah pembubaran perusahaan-perusahaan dari golongan zaibatsu-klan-klan finansial besar yang berkoalisi dengan para pemimpin militer dalam kekuasaan Jepang pasca Shogun Tokugawa. Sialnya, pabrik Matsushita ada dalam daftar pembubaran.

Di sinilah, Matsushita membuktikan diri sebagai pemimpin yang dicintai. Penyelamatan datang dari serikat buruh yang pendiriannya disponsori AS untuk mengenalkan demokrasi. Delegasi buruh Matsushita silih berganti berarak ke Tokyo. Mereka berusaha meyakinkan penguasa kolonial bahwa bos mereka adalah anak miskin non-zaibatsu, majikan yang penuh kebajikan, yang bertujuan memerbaiki kehidupan masyarakat.

Hasilnya, Matsushita lolos dari daftar penghapusan. Dalam buku Matsushita: Lessons from the Life of the Twentieth Century’s Most Remarkable Entrepreneur (1989), John Kotter menjelaskan bahwa Matsushita melakukan “apa yang dilakukan oleh semua pemimpin besar-yakni memotivasi kelompok besar individu untuk memerbaiki kondisi manusia.”

Matsushita, yang wafat pada 1989, tak hanya seorang pebisnis, tetapi juga guru dan filsuf yang telah menulis 46 judul buku. Pada 3 November 1946, pada masa-masa sulit pascaperang, dia mendirikan Institut Perdamaian dan Kebahagiaan Melalui Kemakmuran atau Peace and Happiness Through Prosperity (PHP).

Di lembaga yang disebutnya “mainan orangtua” itulah, Matsushita biasa menghabiskan waktu dari Selasa sampai Jumat untuk berdiskusi dengan para peneliti. Hari Senin, dia rutin menghadiri konferensi bisnis di kantor MEI. Tema pokok diskusinya di PHP adalah cara terbaik memanfaatkan sumber daya bagi kemakmuran dan kebahagiaan untuk semua.

“Yang pertama, kita harus benar-benar tahu apa itu manusia. Jika seseorang ingin memelihara kambing, dia harus belajar tentang sifat kambing. Jadi, dengan rendah hati, saya ingin belajar tentang sifat manusia,” kata Matsushita.

Matsushita bukan pengikut agama atau sekte apa pun. Namun, jelas kalimat di atas mencerminkan kesadaran tinggi akan jati diri dan (karena itu) nilai kecerdasan spiritual diri. Suatu hari pada Maret 1932, setelah berkali-kali menolak secara halus undangan seorang tamu sekaligus pelanggan yang datang ke kantornya, Matsushita akhirnya tergugah datang ke kuil Sekte Tenrikyo di Tokyo, kini dikenal dengan nama Tenri City.

Dia terkejut dengan begitu banyaknya bangunan milik kelompok itu, dengan ukuran dan kualitas arsitekturnya, dan kerapihan halamannya. Di dalamnya ada sekolah yang mengasuh 5.000 murid, perpustakaan dengan koleksi yang mengagumkan, bengkel pembuatan perabotan kayu dan banyak lagi.

Namun, perhatian Matsushita lebih terpikat pada orang-orang dan semangat mereka bekerja serta ketakziman mereka beribadah. Semua orang mendermakan waktu, tak menerima upah, tetapi bekerja dengan antusias. Dari kunjungan itu Matsushita menarik satu kesimpulan: “Jika sebuah korporasi bisa dijadikan seberarti sebuah agama, orang-orang akan puas dan lebih produktif.”

Sumber : Ary Ginanjar Agustian


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: